• SMA NEGERI 2 KUPANG TIMUR
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika  vs  Bujukan Moral)

 

Pengantar

  Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi sepanjang masa. Tujuannya dapat menyiapkan peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan dan tantangan zaman.

  Khusus guru, sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru dalam mengambil sebuah keputusan hendaknya sebijak mungkin dengan memperhatikan segala aspek serta merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, sehingga bisa dijadikan rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Hal ini sejalan dengan semboyan: Ing Ngarso sung tulodho ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

  Dalam Proses pengambilan keputusan, kepala sekolah dan terutama guru harus  bertanggung jawab, dengan segala kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani dengan memberikan dorongan secara moril maupun materiil bagi semua warga sekolah tak terkecuali murid-muridnya.

   Namun fakta lapangan terkadang jauh berbeda dengan idealisme pendidikan yang telah diamanatkan dalam UUD 1945.

Sekolah Sebagai Institusi Moral

  Pada abad ke 21, di mana masyarakat semakin menjadi beragam secara demografi, maka pendidik akan lebih lagi perlu mengembangkan, membina dan memimpin sekolah-sekolah yang toleran dan demokratis. Kita meyakini bahwa, melalui pembelajaran tentang etika, pemimpin-pemimpin pendidikan masa depan akan lebih siap dalam mengenali, berefleksi, serta menghargai keberagaman.”

   Demikian, sebagai sebuah institusi moral, sekolah adalah sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai dan moralitas  dalam diri setiap murid.  Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid.

  Kepemimpinan kepala sekolah dan guru tentunya berperan sangat besar untuk menciptakan sekolah sebagai institusi moral. Dalam menjalankan perannya, tentu seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi berbagai situasi di mana ia harus mengambil suatu keputusan yang ambigu terkait nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling bertentangan.

  Situasi seperti ini disebut sebagai sebuah dilema etika. Di saat itu terjadi, keputusan mana yang akan diambil? Tentunya ini bukan keputusan yang mudah karena kita (Kepala Sekolah dan guru) akan menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya.

  Konteks tulisan ini menguraikan secara singkat bagaimana dilema etika yang dihadapi kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Namun sebelumnya, akan diuraikan secara singkat arti etika. Apa arti moral, sehingga sekolah disebut sebagai suatu institusi ‘moral’. Apakah arti etiket? Apakah sama dengan etika, adakah perbedaan antara etika dan etiket?

  Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, Ethikos yang berarti kewajiban moral. Sementara moral berasal dari bahasa Latin, mos jamaknya mores yang artinya sama dengan etika, yaitu, ‘adat kebiasaan’. Moralitas sebagaimana dinyatakan oleh Bertens (2007) adalah keseluruhan asas maupun nilai yang berkenaan dengan baik atau buruk. Jadi moralitas merupakan asas-asas dalam perbuatan etik.

  Istilah lain yang mirip dengan etika, namun berlainan arti adalah etiket. Etiket berarti sopan santun. Setiap masyarakat memiliki norma sopan santun. Etiket suatu masyarakat dapat sama, dapat pula berbeda. Lain halnya dengan etika, yang lebih bersifat ‘universal’ etiket bersifat lokal (Rukiyanti, Purwastuti, Haryatmoko, 2018). Di bawah ini dapat dibedakan antara Etika dan Etiket:

Prinsip-Prinsip Etika

   Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal, seperti yang telah disampaikan di atas.

  Seseorang yang memiliki penalaran dan attitude yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang.

   Nilai-nilai kebajikan universal sendiri dapat dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling mencintai, saling membantu satu sama lain, dan sebagainya. Gossen (1998) seorang pakar pendidikan dan praktisi disiplin positif mengemukakan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal ini merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita.

   Selanjutnya Gossen berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang, maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal. Nilai-nilai kebajikan universal bisa berupa; keadilan, keselamatan, tanggung jawab, kejujuran, rasa syukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, berkomitmen, percaya diri, kesabaran, keamanan, dan lain-lain.

Keterampilan Pengambilan Keputusan

  Dalam keterampilan pengambilan keputusan seringkali berbagai kepentingan saling bersinggungan dan ada pihak-pihak yang akan merasa dirugikan atau tidak puas atas keputusan yang telah diambil. Perlu diingat bahwa kegiatan pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan. Semakin sering kita melakukannya, maka semakin terlatih, fokus dan tepat sasaran.

  Sesulit apapun keputusan yang harus diambil untuk permasalahan yang sama-sama benar, sebagai seorang pemimpin di sekolah, kita perlu mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur, yaitu; (1). berpihak pada murid; (2). berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal dan; (3). bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil, sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut:

 

Bujukan Moral dan Dilema Etika

  Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, sering kepala sekolah maupun guru berhadapan dengan sebuah pengambilan keputusan. Di sini kita diajak untuk mengingat kembali peristiwa di mana kita mengambil sebuah keputusan sulit atau mengamati bagaimana pimpinan kita mengambil suatu keputusan. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya masalah yang kita hadapi lebih berupa bujukan moral.

  Untuk mendalami lebih lanjut perbedaannya, di sini, akan diidentfikasi dan pemahaman tentang jenis-jenis dilema serta paradigma dalam pengambilan keputusan. Sebelumnya, simaklah kasus-kasus berikut ini, mana yang merupakan dilema etika dan mana yang bujukan moral.

Kasus I:

  Rayhan adalah seorang murid kelas 12 yang sangat berbakat dalam bidang seni. Dia juga sopan dan baik hati. Dia selalu membuat orang terkesan dengan karya-karya seni yang dibuatnya. Namun dia kurang memahami dan menguasai pelajaran Matematika. Nilai-nilainya untuk pelajaran Matematika selalu di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebelum mengikuti Ujian Akhir SMA dan pengumuman kelulusan SMA, Rayhan sudah diterima di universitas pilihannya di jurusan Seni dengan program beasiswa. Pada hari ujian akhir sekolah pelajaran Matematika, Pak Didi adalah guru pengawas ujiannya. Pak Didi memergoki Rayhan menyontek pada saat ujian akhir sekolah Matematika. Rayhan pun sudah mengakuinya ketika ditanya oleh Pak Didi. Setelah ujian selesai, Pak Didi menghadap kepala sekolah, Ibu Dian. Ibu Dian paham, bila sekolah menindaklanjuti kasus ini sesuai peraturan, Rayhan bisa kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan beasiswa di universitas impiannya atau bila ia berbelas kasihan pada Rayhan dan menyimpan kejadian ini rapat-rapat, berarti Ibu Dian tidak mengikuti peraturan sekolah, mungkin Pak Didi akan mempertanyakan prinsip keadilan yang selama ini mereka junjung di sekolah.

Kasus II

  Pak Doni adalah seorang kepala sekolah yang baru diangkat di SMA Bakti Nusantara. Tahun ajaran ini, sekolah tersebut menerima dana Tanggung jawab Sosial Perusahaan/Corporate Social Responsibility (CSR)  dari sebuah perusahaan minyak yang peduli pada dunia pendidikan. Dana tersebut diberikan pada sekolah untuk membiayai pelatihan guru dalam bidang literasi digital. Setelah acara pelatihan guru selesai, Ibu Rini, bendahara kegiatan mengatakan pada Pak Doni bahwa guru-guru bertanya apakah akan ada acara makan-makan. Bu Rini juga mengatakan masih ada sisa dana CSR tersebut, dan biasanya setiap selesai kegiatan pelatihan, sisa dana digunakan untuk makan-makan para guru di restoran dekat sekolah. Ibu Rini pun sebagai bendahara panitia, sudah terbiasa membuat kwitansi palsu untuk membiayai acara tersebut, atas sepengetahuan kepala sekolah sebelumnya.  Bila Anda menjadi Pak Doni, keputusan apa yang akan Anda ambil? Situasi manakah yang lebih menantang bagi Anda untuk mengambil keputusan?  Mengapa?

Perbedaan Situasi Pertama dan Kedua

   Situasi Kasus pertama adalah situasi dilema etika karena kedua pilihan benar. Bila kita berada dalam posisi Ibu Dian, kita dapat mengikuti prinsip keadilan dengan memberi Rayhan konsekuensi sesuai aturan sekolah dengan risiko Rayhan mendapatkan pembatalan beasiswa di universitas yang diimpikannya atau kita membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, demi masa depan Rayhan. Karena terkadang adalah hal yang benar untuk memegang peraturan, tetapi terkadang membuat pengecualian demi masa depan murid merupakan tindakan yang benar juga. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membuat perkecualian dalam peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa belas kasihan (kebaikan hati).

  Situasi Kasus kedua, adalah situasi bujukan moral, karena ini adalah situasi di mana seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Kepala sekolah paham bahwa sebetulnya dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan semacam itu. Ada pilihan benar dan salah bagi kepala sekolah, yaitu, benar dengan menolak permintaan guru-guru untuk makan-makan setelah program pelatihan selesai dan bendahara harus membuat kwitansi palsu atau salah bila memenuhi permintaan guru-guru untuk makan-makan untuk kebersamaan, tetapi memalsukan dokumen dan memanipulasi laporan keuangan

 Pada kenyataannya, menjadi pemimpin atau kepala sekolah bukanlah tugas mudah. Tidak saja menjalankan tugas sebagai manajer, supervisor, kwirausahaan dan pengembangan diri, tetapi hal yang cukup sulit adalah berhadapan dengan dilema etika dalam kepemimpinan.  Menjadi pemimpin selalu diperhadapkan dengan apa yang dinamakan dilema etika versus bujukan moral.

 Dilema merupakan kondisi atau situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama berat. Ketika seseorang menghadapi dilema yang dalam lingkup pekerjaan atau profesi, dapat dikatakan dilema yang dihadapi adalah dilema etika.

   Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Etika terkait dengan karsa, karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral adalah dua dimensi yang saling berkaitan. Karsa merupakan unsur penting dari perilaku manusia. Karsa berhubungan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut seseorang.

   Prinsip ini menjadi dasar pemikiran seseorang dalam mengambil keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Dengan begitu, dilema etika merupakan kondisi yang membingungkan seseorang karena dihadapkan pada dua pilihan yang sulit sehingga harus membuat keputusan yang sulit, karena adanya nilai-nilai kebajikan universal yang saling bertentangan.

   Nilai-nilai yang bertentangan itu bukanlah nilai benar lawan salah, melainkan benar lawan salah. Itulah yang dinamakan dilema etika. Jika nilai yang bertentangan itu adalah nilai yang benar lawan salah, itu adalah bujukan moral.

    Bujukan moral lebih kepada situasi yang jelas adanya pertentangan antara nilai yang benar dan nilai yang salah, tetapi seseorang tidak dapat membuat keputusan yang tepat karena adanya bujukan-bujukan yang mempengaruhinya.

    Bujukan-bujukan itu dapat berupa iming-iming yang menguntungkan diri sendiri. Dalam mengambil keputusan, tentu ada aspek-aspek yang menjadi dasar pemikiran untuk pengambilan keputusan. Ada empat paradigma seseorang dalam mengambil keputusan, sebagai berikut:

Individu lawan masyarakat (Individual vs Community)

  Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar.

   Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Kita.

  Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tetapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice vs Mercy)

  Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.

  Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tetapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata).

  Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan). Misalnya ada peraturan di di sekolah di mana kita harus ada di sekolah tepat waktu (bagi guru). Misalnya suatu hari guru terlambat datang sekolah dan pulang cepat karena ada halangan. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap guru yang bersangkutan. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang datang terlambat dan pulang cepat atau haruskah kepala sekolah membuat pengecualian?

Kebenaran lawan kesetiaan (Truth vs Loyality)

  Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

  Pada situasi perang, tentara yang tertangkap terkadang harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

  Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi pada hal-hal yang setiap harinya terjadi pada kita atau pada lingkup yang lebih luas.

   Misalnya pada isu-isu dunia secara global. Sebagai kepala sekolah, seringkali harus membuat pilihan ini. Pernahkah Kepala Sekolah harus memilih antara menggunakan/memberikan sanksi tegas atau mengasihani bagi guru yang tidak disiplin? Bila iya, Kepala Sekolah telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang. Untuk memperjelas pemahaman terkaiti 4 paradigma dilema etika, mari kita baca kasus-kasus di bawah ini:

Kasus 1

  Ibu Dini adalah kepala sekolah SMA Insan Gemilang. Ia seorang kepala sekolah yang cerdas, berbakat, dan juga inovatif. Ia juga memiliki pembawaan yang supel dan menyenangkan.  Setiap pagi bu Dini akan meluangkan waktu untuk berjalan berkeliling sekolah, mengunjungi kelas-kelas, menyapa guru-guru, dan mendengarkan cerita mereka dan memberi mereka semangat. Murid-murid dan guru-guru akrab dengan Bu Dini.  Anggota komunitas sekolah memiliki hubungan yang positif dengannya, dan mereka menaruh kepercayaan yang tinggi padanya. Selain sebagai seorang kepala sekolah, Ibu Dini juga seorang wirausahawan yang sukses dalam bidang kuliner. Selama ini ia dapat membagi waktunya dengan baik. Ia tidak pernah mencampuradukkan urusan pekerjaannya di sekolah dengan bisnisnya.

   Semakin lama bisnis kuliner Ibu Dini berkembang pesat. Bisnisnya mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai UKM berprestasi dan Ibu Dini mendapat hadiah berupa pelatihan bisnis selama 3 bulan di bawah bimbingan mentor-mentor pebisnis yang sukses. Ini artinya Ibu Dini harus meninggalkan sekolahnya selama 3 bulan karena lokasi pelatihan di luar kota.  Padahal baru-baru ini ia banyak mendapat laporan bahwa sedang banyak terjadi permasalahan di SMA Insan Gemilang, sekolah yang ia pimpin. Guru-guru mulai menurun motivasi kerjanya, siswa-siswa banyak yang melanggar peraturan, dan orangtua murid yang mengeluh karena menurunnya kualitas pendidikan di SMA Insan Gemilang.

   Bila ia mengikuti program pelatihan bisnis itu,  artinya ia harus meninggalkan sekolah lagi selama 3 bulan di tengah kondisi sekolah yang sedang membutuhkan kehadirannya. Di sisi lain ia sangat ingin mengikuti program tersebut karena ia yakin akan mendapat banyak ilmu untuk mengembangkan bisnis kulinernya. Ada dilema antara kepentingannya sebagai individu dan kepentingan orang banyak yaitu warga sekolah di sini. Manakah yang sebaiknya ia pilih?

Perbedaan Dilema Etika dan Bujukan Moral

  Dikutip dari Bergerak Serentak, Yolly Rizky Afrianto (2022), dalam proses pengambilan keputusan, ada 2 hal yang akan terjadi, yaitu dilema etika dan bujukan moral. Perbedaan dilema etika dan bujukan moral adalah: Pertama, Dilema etika (benar vs benar) adalah sebuah situasi dimana keduanya benar tapi bertentangan dalam mengambil keputusan.

   Bujukan moral (benar vs salah) adalah situasi ketika seseorang dihadapkan pada benar salah ketika mengambil keputusan. Bujukan moral lebih mudah diatasi karena dapat berpegang pada norma yang berlaku untuk berpihak kepada yang benar dan yang salah. Dilema etika lebih sulit dihadapi karena ada berbagai hal yang terlibat seperti cinta, keadilan, kebenaran dan sebagainya. Paradigma yang terjadi adalah:

  1. Individu vs masyarakat.
  2. Rasa keadilan vs rasa kasihan.
  3. Kebenaran vs kesetiaan.
  4. Jangka pendek vs jangka panjang.

Umumnya, dalam mengambil keputusan didasarkan pada 3 prinsip cara berpikir, yaitu:

  1. Berbasis hasil akhir (End-based Thinking)
  2. Berbasis peraturan (Rule-based Thinking)
  3. Berbasis rasa peduli (Care-based Thingking)
  4. Panduan Mengambil Keputusan

Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan

  Untuk memandu seorang kepala maupun guru dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Kita lakukan, antara lain;

Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

  Mengapa langkah ini penting untuk dilakukan? Pertama, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih seksama, penting bagi kita untuk mengidentifikasi masalah yang sedang kita hadapi. Kedua, penting bagi kita untuk memastikan bahwa masalah yang kita hadapi memang betulbetul berhubungan dengan aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

   Tidak mudah untuk bisa mengenali hal ini. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah yang sedang kita hadapi.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

   Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi yang sedang kita hadapi, pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Bukan berarti kalau permasalahan tersebut bukan dilema kita, maka kita menjadi tidak peduli. Karena kalau permasalahan ini sudah menyangkut aspek moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

   Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut, sehingga data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut. Kita juga harus bisa menganalisis hal-hal apa saja yang potensial yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.

Pengujian benar atau salah
Uji Legal

  Pertanyaan penting di uji legal ini adalah apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu? Bila jawabannya adalah iya, maka situasi yang ada bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika), namun antara benar lawan salah (bujukan moral). Keputusan yang harus diambil dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan dengan moral.

Uji Regulasi

   Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang guru yang harus melindungi sumber ketidakdisiplinannya? Kita tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi guru, tetapi Kita akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Kita.

Uji Intuisi

  Langkah ini mungkin mengganggu perasaan dan intuisi Kita dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Kita merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Kita yakini. Walaupun mungkin Kita tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa dikitalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

Uji Publik

   Apa yang Kita akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Kita anggap merupakan ranah pribadi Kita tiba-tiba menjadi konsumsi publik? Coba Kita bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Kita merasa tidak nyaman kemungkinan besar Kita sedang menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan moral.

Uji Panutan/Idola

  Dalam langkah ini, Kita akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Kita, misalnya ibu Kita. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Kita, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Kita dan orang yang sangat berarti bagi Kita. Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  1. Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  2. Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  3. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Kita meletakkan diri Kita pada posisi orang lain. Bila situasi dilema etika yang Kita hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Kita karena situasi yang Kita hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral yaitu benar atau salah.
  4. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

   Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Kita hadapi ini? (1). Individu lawan kelompok (individual vs community); (2). Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy); (3). Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty); dan (4). Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Kita hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang samasama penting.

Melakukan Prinsip Resolusi

   Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? (1). Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking); (2). Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking); (3). Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking); dan (4). Investigasi Opsi Trilema.

  Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.

Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

   Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya. Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik.

    Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab  dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

Cara Menghadapi Dilema Etika

   Dalam lingkungan sekolah, kita biasanya mengalami dilema etika terutama saat berhubungan dengan rekan guru, kepala sekolah maupun dengan peserta didik. Untuk bisa menghadapinya dengan baik, dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk bisa mencari solusi terbaik, sambil menjaga reputasi profesionalmu. Sehingga, mengetahui cara menghadapi dilema ini akan membuatmu menjadi seorang profesional yang dihargai. Berikut beberapa contoh cara mengatasi dilemma etika:

Melakukan analisis risiko

    Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menganalisis risiko. Di mana, kita menimbang keuntungan dan kerugian yang bisa didapat dari keputusan, sehingga, melakukan ini dapat membantu kita mengetahui langkah yang harus diambil. Tidak hanya itu, menganalisis risiko juga membantu kita mendapat kejelasan dari situasi yang membuat kita merasakan dilema tersebut.

Berkaca pada pelatihan yang telah didapatkan

  Melansir dari Indeed, cara lain yang bisa dilakukan ketika menghadapi dilema etika adalah berkaca pada pelatihan yang telah didapatkan sebelumnya. Biasanya, perusahaan akan memberi pelatihan seputar etika, terutama bagi yang memegang posisi sebagai pemimpin. Mengingat pelatihan yang pernah didapatkan dapat membantu kita mengetahui langkah yang perlu diambil ketika berada dalam situasi dilematis.

Review panduan perusahaan

Sekolah memiliki peraturan bagi peserta didik untuk mengatur seputar sikap dan perilaku profesional yang diharapkan. Cari bab yang membahas seputar etika dalam panduan tersebut. Mungkin saja di sana terdapat informasi yang bisa membantu kita dalam membuat keputusan ketika berada dalam situasi dilematis tersebut.

Mengacu pada peraturan yang berlaku

Kita juga bisa mengacu pada peraturan yang lebih tinggi ketika berhadapan dengan dilema etika.

Memercayai insting sendiri

  Masih melansir Indeed, kita juga bisa mencoba untuk memercayai insting sendiri ketika merasakan dilema etika. Selalu ada waktu di mana kita harus memercayai insting ketika merasa ada yang tidak benar dalam lingkungan kerja. Dengan begitu, kita bisa mencari tahu lebih lanjut tentang hal yang salah tersebut ketimbang mengabaikannya.Melakukan hal ini dapat melindungi dunia pendidikan, terutama sekolah dari perbuatan tidak etis yang mungkin terjadi. Tidak hanya itu, memercayai insting sendiri juga berarti kita akan mengonfirmasi suatu hal terlebih dahulu ketimbang langsung bertindak. Misalkan, kita mencoba untuk lebih memerhatikan rekan guru yang diduga memanipulasi jam datang dan jam pulang kerja sebelum melaporkan dia ke atasan.

Berbicara dengan orang yang bersangkutan

  Michigan State University mengatakan untuk berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan ketika merasa dalam dilema etika. Karena, berbicara secara langsung dengan orang yang membuatmu merasakan dilema tersebut dapat; (1). mendapatkan sudut pkitang barr; (2). menanyakan pertanyaan klarifikasi dan (3). mendorong orang yang bersangkutan untuk melakukan perbuatan yang lebih etis

  Tidak hanya itu, berbicara secara langsung juga akan membuat mereka menghargai keterusteranganmu dan mengoreksi tindakannya. Namun, jika orang yang bersangkutan membuat pelanggaran etika yang ekstrim, kita tidak perlu melakukan hal ini.

Meninggalkan situasi tersebut sepenuhnya

   Cara lain yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi etika dilema adalah dengan meninggalkan situasi tersebut sepenuhnya. Hal ini bisa dilakukan jika kamu merasa tidak ada usaha atau tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi situasi tersebut. Kita bisa mencoba untuk resign dan mutasi ke sekolah yang baru. Hal tersebut bisa membantu mengurangi rasa stres yang disebabkan dari situasi dilematis.

   Tidak hanya itu, meninggalkan situasi dengan sepenuhnya juga bisa membantu menjaga  etika pribadimu sendiri. Intinya, pastikan untuk tetap menjaga reputasi profesionalmu dan sekolah ketika berada dalam situasi tersebut. Tidak hanya itu, hindari membuat asumsi dan tanyakan secara langsung dengan orang yang bersangkutan.

Penutup

   Dengan demikian bahwa dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang tepat, yaitu pengambilan keputusan berbasis etika, sesuai visi misi berpihak pada murid, budaya positif serta nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi, sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan jelas yang mewujudkan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sehingga tercipta profil pelajar pancasila. Dengan memetakan 4 paradigma dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan, yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan.

  Sembilan keputusan tersebut yaitu: (1). mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan; (2). menentukan siapa saja yang terlibat; (3). mengumpulkan fakta-fakta yang relevan; (4). pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola; (5). pengujian paradigma benar lawan benar; (6). prinsip Pengambilan Keputusan; (6). investigasi Opsi Trilemma; (7). buat Keputusan; dan (9). tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

 

 

 

 

 

Post By: Yulius Bera Tenawahang, S. Fil., M. Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Rujukan

  1. How To Handle Ethical Dilemmas in the Workplace (With Tips) How to Respond to an Ethical Dilemma
  2. Artikel disarikan dari Buku “How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas of Ethical Living, Rushworth M.Kidder, 1995, USA: HarperCollins Publishers
  3. Ichsan Medina, Someone who enjoys writing. Graduated from English Education major in UPI.
  4. https://lms25-gp.simpkb.id/course/view.php?id=246&sectionid=37753
  5. https://lms25-gp.simpkb.id/course/view.php?id=246&sectionid=37753

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital

Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le

22/12/2025 07:26 - Oleh Hen Jami - Dilihat 80 kali
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas

17/12/2025 20:36 - Oleh Hen Jami - Dilihat 80 kali
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat

Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al

17/12/2025 19:41 - Oleh Hen Jami - Dilihat 75 kali
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"

     PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca

12/11/2025 20:32 - Oleh Hen Jami - Dilihat 157 kali
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)

     Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz

12/11/2025 20:06 - Oleh Hen Jami - Dilihat 138 kali
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI

 Ketika melihat judul di atas, menarik karena  Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah  Zaman  dan waktu  yang

10/03/2024 22:25 - Oleh Hen Jami - Dilihat 2183 kali
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur)          Puji Syukur, saya sebagai Calon G

21/09/2023 10:42 - Oleh Administrator - Dilihat 596 kali
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP

KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars

21/08/2023 11:02 - Oleh Administrator - Dilihat 304 kali
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID

   Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas

11/06/2023 23:17 - Oleh Administrator - Dilihat 2307 kali
MENENGOK KEDISIPLINAN GURU PROFESIONAL

 Tulisan ini bertujuan menggugah guru dalam menjalankan tugas sebagai guru profesional. Suka atau tidak, tulisan atau opini ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku

18/04/2023 02:52 - Oleh Administrator - Dilihat 3077 kali