TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewasa sering memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka.
Tulisan ini juga terinspirasi dari kondisi yang sering menempatkan murid sebagai objek pembelajaran oleh guru. Superioritas guru terkadang menganggap murid tidak memiliki kemampuan dalam belajar. Pada hal murid memiliki kemampuan sesuai kodrat alamnya yang di bawa sejak lahir.

Paradigma pendidikan terus berubah setiap tahunnya. Proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas tidak lagi teacher center, melainkan student center. Pembelajaran tidak lagi ceramah, guru dikte murid catat atau guru tinggalkan catatan dan pergi ke ruang guru atau entah ke mana, sedangkan murid disuruh catat dan sebagainya.
Kondisi dengan pradigma pendidikan yang makin maju pun masih ada guru yang tetap menggunakan cara-cara konvesional dalam pembelajaran. Pembelajaran masih menggunakan pola lama dan tidak memberikan kesempatan pada murid untuk berkembang.
Proses pembelajaran seharusnya, guru memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan kritis, sehingga murid mendapatkan porsi lebih untuk aktif dalam pembelajaran.

Konteks Student Center Learning (SCL) adalah pembelajaran yang memberdayakan murid menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat kaku, instruksi guru diubah menjadi beri kesempatan kepada murid menyesuaikan kemampuannya dan berperilaku sesuai pengalaman belajarnya (Westwood, 2008). Student Centered berfokus untuk meningkatkan kemampuan kritis murid, termasuk memberikan kesempatan kepada murid menjadi pemimpin pembelajaran.
Kepemimpinan Murid
Kepemimpinan murid merupakan kemampuan murid untuk mengambil inisiatif, mempengaruhi orang lain dan memimpin dalam lingkungan pendidikan. Hal ini melibatkan kemampuan; mengarahkan, mengorganisir dan memotivasi teman sekelas atau rekan-rekan sebaya untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan murid merupakan salah satu modal penting dalam penentuan dan pengambilan keputusan dalam sebuah kebijakan sekolah.

Perlu guru sadari bahwa murid harus menjadi dasar bagi semua pengambilan keputusan di sekolah, termasuk proses pembelajaran. Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, guru harus sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran, sehingga mampu memekarkan murid sesuai dengan kodratnya.
Dalam konteks pembelajaran, guru perlu merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama.
Muncul pertanyaan yang sering menjadi polemik di sekolah sebagai intitusi moral adalah sejauh mana guru menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut?

Mau sepakat atau tidak, perlu kita tahu bahwa murid mempunyai kamampuan kodrat alami. Tentunya juga semua guru tentu sepakat bahwa murid-murid dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Murid secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal.
Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman murid dengan orang lain dan lingkungan, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri, orang lain, lingkungan, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar.

Pertanyaannya, pernahkah guru-guru melakukan refleksi dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewasa sering memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar murid?.
Opini terkait refleksi guru ini pernah diulas penulis yang dimuat dalam media ini (13/10/2022) dengan judul: Jurnal Refleksi: Cerminan Diri guru. Terkadang guru, bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid tidak berdaya. Guru secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari, tanpa melibatkan peran serta murid dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

Agar guru dapat menjadikan murid sebagai pemimpin dalam proses pembelajarannya, maka guru perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran guru adalah: (1). Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinannya tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya; dan (2). Mengurangi kontrol guru terhadap murid.
Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”.
Agency dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) mengatakan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya.
Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka (termasuk murid-murid) bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.
Lebih lanjut, dalam artikel yang sama Bandura juga mengatakan bahwa ada empat sifat inti dari human agency, yang dalam uraian ini disingkat dengan akronim IVAR agar mudah diingat, yaitu:
I - Intensi = Kesengajaan (intentionality).
Seseorang yang memiliki agency bukan hanya memiliki sekedar niat, tetapi di dalam niat mereka sudah termasuk rencana tindakan dan strategi untuk mewujudkannya. Orang yang memiliki agency akan memahami bahwa dalam mewujudkan niatnya, ia juga harus mempertimbangkan keinginan pihak lain, sehingga berupaya untuk menemukan niatan bersama dan mengelola saling ketergantungan rencana.
V - Visi = Pemikiran ke depan (forethought).
Pemikiran ke depan di sini bukan hanya sekedar rencana yang mengarahkan masa depan. Mereka yang berpikiran ke depan menjadikan visi (representasi kognitif dari visualisasi masa depan) sebagai pemandu dan memotivasi tindakan-tindakan mereka saat ini. Hal ini membuat murid menjadi individu yang bersemangat dan bertujuan.
A - Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness).
Seseorang yang memiliki agency, bukan hanya seorang perencana dan pemikir ke depan. Mereka juga seorang pengendali diri (self-regulator). Setelah memiliki niat dan rencana, ia tidak akan duduk diam dan menunggu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi aksi atau tindakan yang tepat dan untuk memotivasi serta mengatur eksekusinya.
R - Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness).
Seseorang yang memiliki agency akan memiliki kesadaran yang baik akan fungsi dirinya. Mereka akan melakukan refleksi terhadap efikasi dirinya, kecemerlangan dan ketepatan pikiran dan tindakannya dan kebermaknaan dari upaya yang mereka lakukan dalam pencapaian tujuan, serta akan melakukan perbaikan jika diperlukan.
Kemampuan metakognitif untuk melakukan refleksi diri sendiri dan kecukupan pemikiran dan tindakan seseorang adalah sifat yang paling jelas dari orang yang memiliki agency.

Murid mendemonstrasikan “student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.
Mengingat bahwa kata agency ini belum ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, maka untuk kepentingan pembahasan ini, istilah student agency ini selanjutnya diterjemahkan sebagai “kepemimpinan murid”.
Jika guru mengacu pada OECD (2019), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing).
Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka (murid) untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.
Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan.
Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain.
Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri.
Lewat proses seperti ini, murid-murid akan secara alamiah mempelajari keterampilan belajar (belajar bagaimana belajar). Keterampilan belajar ini adalah sebuah keterampilan yang sangat penting, yang dapat dan akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka dan bukan hanya untuk saat ini.
Guru dan Murid adalah Mitra Pembelajaran
Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya bersifat kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat kemitraan ini, saat murid belajar mereka akan:
- Berusaha untuk memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapainya
- Menunjukkan keterlibatan dalam proses pembelajaran
- Menunjukkan tanggung jawab dalam proses pembelajaran
- Menunjukkan rasa ingin tahu
- Menunjukkan inisiatif
- Membuat pilihan-pilihan tindakan
- Memberikan umpan balik kepada satu sama lain.
Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar akan:
- Berusaha secara aktif mendengarkan, menghormati, dan menanggapi ideide, pendapat, pertanyaan, aspirasi dan perspektif murid-murid mereka
- Memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan minat murid-murid mereka untuk memastikan proses pembelajaran sesuai untuk mereka
- Mendorong murid untuk mengeksplorasi minat mereka dengan memberi mereka tugas-tugas terbuka
- Menawarkan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan kreativitas dan mengambil risiko
- Mempertimbangkan sejauh mana tingkat bantuan yang harus diberikan kepada murid berdasarkan informasi yang mereka miliki
- Menunjukkan minat dan keingintahuan untuk mendengarkan dan menanggapi setiap aktivitas murid untuk memperluas pemikiran mereka.
Untuk lebih memahami konsep kepemimpinan murid, guru perlu ketahui beberapa hal, sebagai berikut.
|
Kepemimpinan Murid |
Kepemimpinan Murid Bukan |
|
Sesuatu yang dapat guru dorong sesuatu yang bisa guru ‘berikan’ atau ‘ambil’ dari murid |
Sesuatu yang bisa kita ‘berikan’ atau ‘ambil’ dari murid |
|
Murid mengambil kepemilikan dan tanggung jawab atas proses pembelajaran mereka sendiri |
Berarti bebas sepenuhnya bagi murid karena murid tetap membutuhkan bimbingan guru. Terkadang terlalu banyak pilihan dapat menjadi kontraproduktif dan bukannya menginspirasi. |
|
Murid memiliki suara dan pilihan atas apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar dan mengorganisir pembelajaran mereka |
Berarti tidak ada akuntabilitas murid. Murid tetap harus menunjukkan penguasaan pengetahuan, konsep, dan keterampilan. |
|
Murid dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri. |
Berarti mengganti peran guru. Murid justru memerlukan umpan balik, negosiasi, beradu argumen, tuntunan, coaching dari gurunya di sepanjang proses pembelajaran. |
Menumbuhkan Kepemimpinan Murid
Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau guru katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran.
Lewat suara, pilihan dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.
Tugas guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya, di mana murid memiliki suara, pilihan dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.
Lalu, Apa sebenarnya yang dimaksud dengan suara, pilihan dan kepemilikan murid? Ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Suara (voice)
Ketika guru berbicara tentang “suara” murid, maka guru sebenarnya bukan hanya berbicara tentang memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat.
Voice (suara) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif di kelas, sekolah, komunitas dan sistem pendidikan, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya. (www.education.vic.gov.au)
Mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana guru memberdayakan murid, agar memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.
Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi dan sebagainya.
Berikut ini adalah beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mempromosikan “suara murid”:
- Membangun budaya saling mendengarkan.
- Membangun kepercayaan diri murid agar mereka percaya bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.
- Melibatkan murid dalam memberikan umpan balik terhadap proses belajar yang telah dilakukan.
- Melibatkan murid dalam memberikan umpan balik terhadap berbagai program dan kebijakan-kebijakan sekolah.
- Melibatkan murid dalam perencanaan pembelajaran.
- Melibatkan murid dalam menyusun kriteria penilaian.
- Memberikan kesempatan murid untuk bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi dalam berbagai kesempatan dan proses pembelajaran.
- Mengajak murid untuk mendiskusikan keyakinan kelas dan membuat kesepakatan kelas.
- Membentuk dewan murid atau komite-komite yang anggotanya adalah murid-murid untuk memberikan masukan kepada sekolah terhadap berbagai elemen sekolah lainnya (misalnya lingkungan, fasilitas, kegiatan, kantin, seragam).
- Melibatkan murid untuk memberikan saran tentang alat permainan apa yang mereka inginkan ada di halaman sekolah.
- Memberikan kesempatan murid untuk memberi saran terkait menu yang di jual kantin.
- Membuat kotak saran untuk murid memberikan saran dan masukan tentang sekolah.
- Melakukan kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Mengidentifikasi masalah atau persoalan yang terjadi dalam dunia nyata yang menarik bagi murid dan kemudian memberi kesempatan mereka untuk bekerja sama dan bertukar pikiran tentang strategi dan solusi untuk permasalahan tersebut.
- Membuat blog murid dan majalah dinding untuk menyuarakan aspirasi dan kreativitas murid.
Pilihan (Choice)
Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan dan pembelajaran. (marzanoacademies.org). Dalam ranah sosial, murid dapat diberikan kesempatan untuk berada dalam kelompok yang sesuai dengan tujuan atau minatnya; dalam ranah lingkungan, murid dapat diberikan kesempatan untuk memilih atau mengatur tempat belajar yang sesuai untuk mereka.
Dalam ranah lingkungan, murid diberikan kesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang paling mendukung untuk mereka belajar secara maksimal. Sementara dalam ranah pembelajaran, murid diberikan pilihan-pilihan untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan penguasaan pengetahuan atau keterampilan dalam kurikulum.
Aiken et al (2016) dalam Thibodeaux et al. (2019), menyimpulkan bahwa memberi pilihan akan memberdayakan murid, mendorong keterlibatan, dan mempromosikan minat dalam pengalaman belajar.
Selain itu, memberi peserta didik pilihan dan kepemilikan mensyaratkan bahwa kontrol dalam proses pembelajaran harus diberikan juga kepada murid-murid (Thibodeaux 2017; 2019). Bandura (1997) juga menegaskan bahwa memberikan murid pilihan juga akan meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (dalam Thibodeaux et al, 2019).
Pertanyaannya adalah bagaimana guru dapat memberikan murid-murid pilihan dalam proses belajar mereka? Ada banyak cara yang dapat dilakukan.
Berikut ini beberapa contoh bagaimana guru dapat mendorong dan menyediakan “pilihan” bagi murid-muridnya.
- Membuka cakrawala murid bahwa ada berbagai pilihan atau alternatif yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum menentukan sebuah keputusan.
- Memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program.
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
- Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan.
- Menggunakan musyawarah untuk mengambil keputusan, atau jika memang diperlukan melalui voting, untuk memprioritaskan langkah tindakan atau aktivitas berikutnya. Misalnya saat ingin belajar tentang topik tertentu, guru dapat mendiskusikan dan membuat daftar kegiatan apa saja yang dapat mereka lakukan, kemudian meminta murid untuk memilih mana yang ingin mereka lakukan lebih dulu.
- Mengajak OSIS membuat daftar kegiatan (event) dan memberikan kesempatan untuk memilih mana kegiatan yang ingin mereka lakukan di dalam satu tahun ajaran.
- Memberi kesempatan pada murid untuk menentukan sendiri bentuk penugasan yang mereka inginkan.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk mengevaluasi pembelajarannya.
- Memberikan kesempatan pada murid untuk menentukan rencana, jadwal atau agenda dalam melaksanakan pembelajarannya. Ada banyak lagi contoh lainnya. Dapatkah Ibu/Bapak memberikan contoh lainnya?
Kepemilikan (Ownership)
Dalam uraian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa saat murid berada dalam kursi kemudi proses belajar, maka murid akan lebih bertanggungjawab terhadap proses pembelajarannya sendiri dan menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dalam proses belajarnya.
Menurut Duddley-Marling dan Searle yang dikutip oleh Rainer dan Mona dalam artikel yang berjudul Ownership of Learning in Teacher Education (2002) bahwa kepemilikan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan, melainkan sesuatu yang berkembang dalam struktur dan proses yang menyiratkan rasa hormat terhadap otonomi, kekuasaan, suara dan tanggung jawab kepada orang lain.
Dengan demikian kondisi-kondisi, struktur dan proses perlu dikembangkan agar guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang mendorong murid memiliki rasa kepemilikan. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
- Memberikan murid kesempatan untuk memilih beberapa kegiatan yang mereka lakukan (misalnya memilih topik untuk dilaporkan).
- Memberikan kesempatan murid berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum (misalnya, memutuskan apa yang ingin mereka pelajari).
- Memberikan murid kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam kelas.
- Memberikan murid kesempatan untuk menilai diri sendiri dan terlibat dalam proses penilaian (misalnya, melibatkan murid dalam mendiskusikan kriteria rubrik proyek yang baik).
Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif dan investasi pribadi seseorang dalam proses belajar.
Merujuk pada pendapat tentang konsep kepemilikan, dapat dikatakan bahwa, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan investasi pribadi dalam proses belajarnya, maka guru dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi. Berikut ini adalah beberapa contoh mempromosikan “kepemilikan murid”:
- Merespon dan menindaklanjuti masukan dan umpan balik dari murid.
- Meminta pendapat murid untuk menentukan bentuk penugasan.
- menciptakan lingkungan belajar di mana murid dapat menetapkan tujuan belajar dan kriteria keberhasilan mereka sendiri, dan memantau dan menyesuaikan pembelajaran mereka.
- Secara terus menerus tunjukkan kepada murid bagaimana mereka dapat menjadi pembelajar yang lebih baik dari hari ke hari, misalnya dengan belajar untuk menerima kesalahan. Berbagilah dengan murid-murid guru bagaimana terkadang guru membuat kesalahan dan bagaimana guru kemudian belajar dari kesalahan tersebut. Dengan cara ini, murid akan selalu merasa diterima. tidak dituntut sempurna, sehingga merasa nyaman dalam proses pembelajarannya.
- Menanyakan kepada murid apa yang mereka ketahui tentang topik yang akan dipelajari atau mendiskusikan pengalaman murid tentang topik tersebut, dan mengkoneksikannya dengan pembelajaran yang akan dilakukan.
- Memosting ide siswa (dengan seizin murid sebagai bagian dari menghargai dan menghormati kepemilikan murid).
- Mengajak murid mengatur layout kelas mereka sendiri.
- Mengkondisikan lingkungan fisik yang mendukung kepemilikan. Misalnya membuat papan buletin, yang dapat digunakan murid untuk menampilkan informasi tentang pekerjaan mereka, kesuksesan mereka, dsb.
- Mengajak murid untuk mengatur kelas mereka sendiri.
- Memajang pekerjaan-pekerjaan murid di kelas.
- Melakukan penilaian diri sendiri (self assessment).
- Membuat sudut murid di salah satu bagian sekolah, kemudian memberikan jadwal untuk setiap kelas untuk melakukan sesuatu di sudut tersebut.
- Memberi kesempatan murid membawa sumber-sumber pembelajaran yang mungkin mereka miliki dan meminta mereka berbagi.
Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, ketiga aspek tersebut tentunya perlu didorong oleh guru. Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’ proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan.
Perlu diperhatikan bahwa ketiga aspek ini tidak dapat berada di lingkungan yang tidak terstruktur. Ketiga aspek ini harus disematkan dengan hati-hati dalam lingkungan belajar yang menumbuhkembangkan elemen-elemen tersebut secara otentik. Lingkungan belajar yang seperti ini akan mensyaratkan seluruh anggota komunitas untuk ikut terlibat dalam prosesnya.
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan sesuai dengan Standar Proses perlu diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Mendorong suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam program-program dan kegiatan sekolah merupakan upaya yang dapatdilakukan oleh sekolah untuk memenuhi standar proses ini.
Kepemimpinan Murid dan Profil Pelajar Pancasila
Profil Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang, sehingga seharusnya menjadi landasan bagi visi sekolah.
Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar Pancasila dalam dirinya. Jika guru telaah lebih lanjut, dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, maka secara bersamaan guru sebenarnya juga sedang membangun karakter murid yang:
Beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid untuk mengamalkan nilai-nilai agama dan kepercayaannya dalam bentuk sikapsikap dan tindakan atau perilaku positif. Murid-murid yang memiliki kepemimpinan yang kuat, akan menunjukkan akhlak yang baik terhadap dirinya pribadi, terhadap sesama, negara dan alam ciptaan-Nya.
Mengapa? Ini karena mereka akan tumbuh menjadi murid yang merdeka, yang bukan hanya tidak terperintah saja, namun juga dapat menegakkan diri, serta mengatur kehidupan dirinya sendiri, hubungannya dengan orang lain dan lingkungan dengan baik. Mereka akan mampu menjunjung nilai-nilai kebajikan universal, seperti cinta kasih sesama manusia, kejujuran dan sebagainya.
Berkebinekaan global
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan melatih murid-murid guru untuk memiliki pemikiran dan wawasan yang luas dan terbuka. Mereka akan terbiasa untuk melihat perbedaan, menghargai beragam perspektif sehingga diharapkan dapat hidup ditengah-tengah masyarakat yang majemuk.
Murid akan mampu beradaptasi dengan situasi dan perubahan yang dihadapinya, dan mampu menjadi pemecah masalah yang percaya diri dimanapun ia berada.
Bergotong royong
Mendorong kepemimpinan murid akan melatih murid untuk terlibat dan berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama dan berkontribusi dalam masyarakat yang lebih luas.
Lewat interaksi ini, mereka akan memiliki keinginan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, dan mampu berkolaborasi untuk melakukan tindakan demi kebermanfaatan dan kebahagiaan bersama
Mandiri
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mendorong murid untuk mengambil kontrol dan bertanggung jawab pada proses pembelajarannya sendiri. Saat guru mendorong kepemimpinan murid, maka guru juga melatih kemampuan mereka untuk meregulasi diri sendiri.
Murid akan dapat menetapkan tujuan dan rencana strategis bagi pengembangan dirinya sendiri sekaligus mampu menunjukkan resiliensi dan kemampuan beradaptasi yang baik dalam berbagai situasi, serta percaya diri bahwa ia mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Bernalar kritis
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid untuk memiliki kemampuan bernalar kritis karena mereka akan belajar untuk membuat pilihan-pilihan dan membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab.
Murid juga akan berlatih untuk mengembangkan keterampilan refleksi terhadap proses pembelajaran dan belajar dari berbagai situasi yang terjadi lewat interaksi mereka dengan komunitas yang lebih luas.
Kreatif
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memungkinkan murid untuk terekspos pada pengalaman belajar otentik yang menuntut mereka untuk mampu melihat permasalahan dan secara kreatif berusaha mencari solusi atas permasalahan tersebut.
Mendorong murid untuk bersuara berarti juga membuka ruang bagi sikap berani mengambil risiko, sehingga murid tidak takut untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran kreatif mereka.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan Murid
Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan anak bahwa padi yang hanya akan tumbuh subur pada lingkungan yang tepat, maka kepemimpinan murid pun akan tumbuh dengan lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang mendukung.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana guru, sekolah, orang tua dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
- Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
- Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
- Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
- Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
- Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.
- Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri.
- Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
Pola pikir positif ini didapatkan oleh murid melalui pengalaman emosi positif di sekolah. Murid merasa aman, nyaman dan merasa menjadi bagian dari komunitas sekolah. Murid merasakan keselarasan antara kebutuhan dan harapannya terhadap sekolah dan lingkungannya dengan pengalaman belajar yang didapatnya di sekolah.
Melalui pengalaman emosi positif ini, murid akan mampu mengembangkan keterampilan inkuiri, menunjukkan sikap gembira, penuh syukur, saling mengapresiasi. Mereka memiliki kesadaran diri, sikap optimis sehingga dapat berperan aktif dan membuat perbedaan yang positif, baik untuk dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya.
Di dalam lingkungan yang seperti ini, nilai-nilai tersebut kemudian akan mewujud menjadi atmosfer sekolah yang positif, di mana hubungan dan interaksi sosial yang terjalin di antara para murid, guru, orang tua maupun seluruh komunitas yang terkait akan terasa sangat positif dan kontributif.
Dalam lingkungan ini, murid akan belajar tentang nilai-nilai ketekunan serta kerja keras. Murid akan belajar untuk mampu melihat sejauh mana kemajuan proses belajarnya. Murid mampu mengerjakan tugas sekolahnya secara mandiri, memiliki pemahaman yang benar dan cakap sehingga berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Lingkungan yang seperti ini akan membantu murid untuk dapat menerapkan dan mempergunakan apa yang menjadi kekuatan dirinya dan memanfaatkan serta menerapkannya dalam berbagai konteks yang berbeda-beda.
Lingkungan yang seperti ini akan memberikan kesempatan bagi murid untuk melihat dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar di luar dirinya. Lingkungan ini akan memberikan peluang bagi murid untuk belajar melalui pelayanan kepada masyarakat dan komunitas di mana mereka akan dapat terus mengasah rasa kemanusiaan, kepedulian, dan rasa cinta kasih.
Lingkungan yang seperti ini akan menyediakan berbagai kegiatan belajar yang menarik, menantang, dan bermakna, di mana dalam prosesnya murid akan merasa senang hati dan menikmati setiap momen pembelajarannya.
Lingkungan ini akan membantu murid untuk berani menerima tantangan, berjiwa besar, dan selalu bangkit lagi dan berusaha mencari solusi bila menemui kegagalan. Lingkungan ini akan memungkinkan murid untuk selalu mengambil pelajaran dari setiap kegagalan kegagalan yang dijumpainya dan berusaha untuk menemukan cara-cara alternatif atau cara yang paling tepat.
Kaitan dengan Standar Nasional Pendidikan
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan mensyaratkan bahwa Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Terdapat beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.
Post By: Yulius Bera Tenawahang, S. Fil, M. Pd
Sumber Rujukan:
- Disadur dan diolah kembali oleh penulis dari Noble, T. & H. McGrath, 2016)
- Disadur dan diolah kembali oleh penulis dari lms25-gp.simpkb.id/course/view.php?id=246§ionid=37757
- Sumber Gambar: https://www.google.com/search?
- Sumber Gambar: https://www.shutterstock.com/id/search/teacher-clip-art
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur) Puji Syukur, saya sebagai Calon G
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s
MENENGOK KEDISIPLINAN GURU PROFESIONAL
Tulisan ini bertujuan menggugah guru dalam menjalankan tugas sebagai guru profesional. Suka atau tidak, tulisan atau opini ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku
