• SMA NEGERI 2 KUPANG TIMUR
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP

KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP

Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani”. Pepatah dengan penggalan kata ini masing-masing mempunya arti sebagai berikut: “Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya di depan memberikan teladan; Ing Madyo Mangun Karso, artinya di tengah memberi semangat dan Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberi dorongan.

Namun sebelumnya perlu ditehaui juga pemikiran Ki Hajar Dewantara KHD) tentang pendidikan dan mengajar sebagai dasar pemikiran dalam pendidikan. Apa itu mengajar? Apa itu mendidik? Mengajar dan mendidik merupakan satu kesatuan dalam proses pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mengajar sama dengan mendidik dan mendidik sama dengan mengajar. Dalam mengajar ada pendidikan, dalam pendidikan ada pengajaran. Keterkaitan antara pendidikan dan pengajaran sangat sulit dibedakan dalam konsep dan tindakan nyata. Namun, Ki Hadjar Dewantara, seorang filsuf pendidikan Indonesia mendefinisikan pengajaran sebagai bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan. Pengajaran diartikan sebagai suatu proses dalam memberi ilmu atau bermanfaat untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan pendidikan penekanan lebih kepada tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak. Tuntunan yang dimaksudkan, yakni pendidikan adalah sebuah proses tuntunan. Peserta didik dituntun dalam proses pembelajaran. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan dan guru atau pendidik menjadi/sebagai 'pamong' dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang 'pamong' dapat memberikan 'tuntunan' agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Selain itu, Ki Hajar Dewantara melaksanakan pendidikan budi pekerti dengan cara Tut Wuri Handayani, yang dikenal dengan sistem Among. Sistem Among artinya, peserta didik harus mampu membangun skill agar berdaya guna. Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa peserta didik harus mampu mengembangkan daya cipta, rasa, dan karsa yang seimbang dan guru wajib menuntunnya. Tujuannya agar anak/peserta didik mampu mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya, baik manusia persona maupun sebagai persona sosial. Di sini, Guru haruslah menjadi teladan, menjadi roh model sekaligus menjadi “HAMBA” yang siap melayani peserta didik. Konsep “HAMBA” di sini dimkasudkan adalah guru  menyediakan waktu dan tenaga sesuai tugas dan fungsinya (tanpa alasan) melayani untuk  mewujudkan perilaku peserta didik yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa.

Ki Hajar Dewantara mengingatkan para pendidik harus tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada. Prinsipnya, tidak semua yang baru itu baik, namun butuh filter yang berasal dari pengatahuan dan pemahaman guru itu sendiri. Untuk itu perlu adanya keselarasan antara pemahaman dan pengetahuan yang inovatif, kreatif dari guru. Dengan demikian dasar pendidikan yang dimaksudkan adalah dalam mendidik, peserta didik selalu diarahkan untuk berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman terutama kodrat (guru yang memerdekakan dalam proses pendidikan).

Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana peserta didik berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama kehidupan peserta didik. Artinya setiap peserta didik sudah membawa sifat atau karakter masing-masing. Perlu diketahui bahwa guru tidak bisa menghapus sifat dasar tersebut dari diri peserta didik.  Untuk itu guru menunjukan dan membimbing peserta didik agar muncul sifat-sifat baiknya. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat menutupi dan atau mengaburkan sifat-sifat jeleknya. Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada peserta didik sesuai zamannya. Dengan demikian, anak didik bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri.

Dalam konteks pembelajaran sekarang, sangat diharapkan guru harus membekali peserta didik dengan kecakapan abad 21 dan budi pekerti yang menjadi bagian tak terpisahkan. Guru harus senantiasa memberikan teladan baik bagi peserta didiknya. Dalam pembelajaran di kelas, guru harus memperhatikan kodrat anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak bermain, pasti yang mereka rasakan kegembiraan. Semua itu membuat kesan membekas di hati dan pikirannya. Guru harus memasukan unsur permainan dalam pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik senang dan tidak mudah bosan dengan proses pembelajaran. Selain mendidik, guru bisa sekaligus mengajak anak melestarikan kebudayaan, dengan selingan permainan daerah dalam proses pembelajaran. Suatu hal terpenting yang harus dilakukan guru adalah menghormati dan memperlakukan anak didik dengan sebaik-baiknya. Sesuai kodratnya, peserta didik harus dilayani dengan tulus dan guru memberikan teladan (ing ngarso sung tulodo), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan guru memberikan dorongan (tut wuri handayani). Guru menuntun peserta didik menjadi pribadi terampil, berakhlak mulia dan bijaksana.

Sebelum mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya percaya bahwa tindakan tegas dan menghukum peserta didik bisa merubah perilaku anak. Akan tetapi, perubahan yang terjadi pada diri peserta didik bersifat semu, karena didasari rasa takut. Di sini saya belum sepenuhnya menyadari tentang kodrat alam sang anak, sehingga sering marah ketika ada anak lamban dalam pelajaran. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa belum banyak guru yang memberikan model pembelajaran yang menyenangkan. Setelah mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya akan merubah pola pikir saya dengan menciptakan sebuah kepemimpinan pembelajaran dengan membangun sebuah suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memerdekakan peserta didik.

Perlu dan harus diketahui bahwa anak didik bukanlah robot yang harus menurut perintah gurunya. Peserta didik bukanlah robot yang dikontrol oleh remote control yang kita gurunya mau apa saja, peserta didiknya harus mengikutinya. Pendidikan yang seharusnya adalah bukan system remote control, melainkan memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih sabar dan ikhlas. Saya tidak memberikan hukuman dengan alasan mendidik, namun terkesan tidak mendidik. Saya akan berusaha memberikan didikan dengan cara menuntun dan pembelajaran menyenangkan dengan mencoba berbagai model pembelajaran.

Harapan saya bahwa konteks pembelajaran, di mana proses pembelajaran dirancang menyenangkan yang dapat mendorong peserta didik untuk banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Saya juga harus memperkokoh basis pendidikan karakter dan mengembangkan budi pekerti anak dangan menuntun bukan dengan memberikan hukuman. Setiap proses pembelajaran, penugasan dan penguatan tugas selalu dikaitkan dengan kebutuhan dan minat setiap peserta didik. Saya berusaha selalu membangun komunikasi yang efektif dengan rekan guru (kepala sekolah), orang tua dan semua stakeholder  untuk pengembangan kualitas  pembelajaran peserta didik. Sebagai pendidik saya ingin bisa mengajak rekan guru dan sekolah untuk kreatif, inovatif dan harus selalu siap menerima perubahan, terutama perubahan yang terjadi di bidang pendidikan. Misalnya, mengembangkan ide-ide inovatif, kreatif, yang akan menghasilkan karya bermakna, bermanfaat dan berdampak untuk masa depan peserta didik.

Harapan saya bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara ini bermanfaat bagi guru dan sekolah, di mana, pendidik harus memerdekakan kehidupan manusia. Siswa diberi kemerdekaan untuk tumbuh dan berkembang, belajar sesuai keinginan dan kemampuan mereka yang dilengkapi dengan dukungan dalam proses belajar siswa oleh pengajar sesuai kebutuhan masing-masing siswa secara individual. Guru bertanggungjawab menuntun laku anak sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Anak didik adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan kebebasan untuk menentukan hidupnya. Dalam pembelajaran, anak diberikan kebebasan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya sehingga mereka merasa nyaman dan bahagia serta diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan baik seiring dengan perkembangan jaman. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya.  

Ayo Bapak/Ibu Guru/Pendidik, mari bergerak mewujudkan tujuan pendidikan nasional, salah satunya, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab. Mari…rubahlah mindset kita menuju pola pikir yang kreatif, inovatif dan mandiri dalam rangka menghantar peserta didik menuju masa depan mereka yang membahagiakan dengan pendidikan yang memerdekakan.

Yulius Bera Tenawahang

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital

Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le

22/12/2025 07:26 - Oleh Hen Jami - Dilihat 80 kali
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas

17/12/2025 20:36 - Oleh Hen Jami - Dilihat 79 kali
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat

Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al

17/12/2025 19:41 - Oleh Hen Jami - Dilihat 74 kali
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"

     PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca

12/11/2025 20:32 - Oleh Hen Jami - Dilihat 156 kali
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)

     Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz

12/11/2025 20:06 - Oleh Hen Jami - Dilihat 137 kali
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI

 Ketika melihat judul di atas, menarik karena  Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah  Zaman  dan waktu  yang

10/03/2024 22:25 - Oleh Hen Jami - Dilihat 2182 kali
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur)          Puji Syukur, saya sebagai Calon G

21/09/2023 10:42 - Oleh Administrator - Dilihat 595 kali
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID

   Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas

11/06/2023 23:17 - Oleh Administrator - Dilihat 2306 kali
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika  vs  Bujukan Moral)

  Pengantar   Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s

01/06/2023 13:36 - Oleh Administrator - Dilihat 2718 kali
MENENGOK KEDISIPLINAN GURU PROFESIONAL

 Tulisan ini bertujuan menggugah guru dalam menjalankan tugas sebagai guru profesional. Suka atau tidak, tulisan atau opini ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku

18/04/2023 02:52 - Oleh Administrator - Dilihat 3077 kali