KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
Oleh
YULIUS BERA TENAWAHANG
(SMA Negeri 2 Kupang Timur)
Puji Syukur, saya sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 9 haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmat-Nya yang selalu menyertai saya sehingga sampai saat ini, masih bisa menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas berkenaan dengan program guru penggerak dengan baik. Salah satu tugas yang perlu diselsaikan adalah koneksi antar materi berkenaan dengan VISI GURU PENGGERAK. Visi guru penggerak sendiri, yaitu suatu cita-cita atau impian yang ingin diwujudkan oleh seorang guru penggerak terkait sosok murid atau sekolah impian di masa mendatang. Dalam kaitan dengan itu, maka visi seorang guru penggerak menjadi sebuah acuan penting dalam melangkah dan memerankan dirinya sehari-hari dalam menghadapi peserta didik. Dalam menentukan atau menyusun visi, seorang guru mulai membayangkan dan memiliki harapan ke depan seperti apa murid yang diinginkan
Terlepas dari semuanya itu bahwa salah satu ungkapan Ki Hajar Dewantara yang memuat visi pendidikan yakni: “Maksud Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid, agar anak-anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Visi pendidikan yang dimaksud adalah anak-anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Bagi saya ini merupakan sebuah pekerjaan besar bagi seorang pendidik sebab mencapai keselamatan dan kebahagiaan bukanlah perkara mudah seperti membalik telapak tangan. Di samping itu indikator keselamatan dan kebahagiaan untuk setiap anak sebagai individu tidak bisa digeneralisasikan sesuai keinginan guru, melainkan sesuai kodrat peserta didik atau murid itu sendiri..
Di satu sisi, saat ini kita tengah berada pada abad 21 yang mana segala sesuatu berubah dengan sangat cepat. Perkembangan abad 21 yang ditandai dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu masif dalam segala bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perkembangan yang terjadi menyebabkan setiap dunia kerja menuntut perubahan kompetensi dan keterampilan. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pendidik, agar menyiapkan murid untuk bersaing di abad 21 ini. Jika murid tidak disiapkan dengan baik dalam hal kompetensi dan keterampilan maka dapat dipastikan mereka akan tersisih dan kalah saing dari kompetensi dan keterampilan mereka tidak berguna dalam dunia kerja. Ini menjadi tantangan besar di abad 21 ini.
Untuk menjawab tantangan abad 21 di atas, maka murid harus memiliki Profil Pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila di sini berarti murid belajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Ada enam dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Keenam dimensi ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil tersebut menjadi tidak bermakna.
Merujuk pada ungkapan Ki Hajar Dewantara terkait visi pendidikan dan fakta tentang tantangan abad 21, maka saya sebagai seorang calon guru penggerak (CGP) yang akan menjadi guru penggerak (GP) berusaha menemukan satu kesamaan dalam hal peran seorang pendidik. Pendidik harus menuntun segala kodrat yang ada pada anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta memiliki Profil Pelajar Pancasila. Kodrat yang dimaksudkan oleh KHD adalah kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam yang diartikan sebagai lingkungan alam tempat anak tumbuh, baik kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya. Kodrat alam berhubungan juga dengan karakter dasar anak. Guru haruslah menuntun anak sesuai dengan karakteristiknya dan menjadi teladan positif bagi mereka dalam hal karakter. Selanjutnya kodrat zaman diartikan perubahan dari waktu ke waktu. Guru menuntun murid sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya, dan menyesuaikan diri.
Dalam upaya mewujudkan visi pendidikan ini serta menjawab tantangan abad 21 maka diperlukan suatu rencana strategis. Rencana strategis dapat dipecah-pecah dalam bentuk yang sederhana menjadi rencana taktis. Rencana strategis dan rencana taktis ini merupakan segenap sumber daya yang dipergunakan dalam rangka pencapaian visi pendidikan maupun menjawab tantangan abad 21. Rencana ini dikenal dengan istilah Inkuiri Apresiatif (IA). IA merupakan manajemen perubahan secara kolaboratif dan berbasis pada kekuatan. Setiap orang pada dasarnya memiliki inti positif yang dapat memberi kontribusi melalui hal-hal yang positif yang pernah dicapai dan kekuatan-kekuatan yang dimiliki sehingga bisa menentukan langkah selanjutnya.
Selanjutnya salah satu model IA yang dapat digunakan dalam pencapaian visi adalah BAGJA. BAGJA dalam Bahasa Sunda berarti Bahagia. Ada beberapa tahapan dari BAGJA yaitu:
- Buat Pertanyaan
Hal ini bertujuan untuk menentukan arah penelusuran dengan beberapa pertanyaan, yang kemudian diambil kalimat utama. Pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/peluang.
- Ambil Pelajaran
Digunakan untuk menuntun mengambil pelajaran atau hikmah. Pada tahapan ini menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, melibatkan multiunsur (diskusi kelompok kecil atau besar).
- Gali Mimpi
Menggali mimpi, keadaan ideal yang diinginkan bisa dengan menyusun narasi keadaan yang diinginkan. Pada tahapan ini menyusun diskripsi kolektif bilamana insiatif terwujud. Kemudian mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multi unsur (kapan, dimana, siapa saja).
- Jabarkan Rencana
Mengidentifikasi tindkaan yang diperlukan. Pada tahapan ini mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera, dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian.
- Atur Eksekusi
Membantu transformasi rencana menjadi nyata. Pada tahap ini menentukan siapa yang berperan/dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Bagi saya sebagai calon guru penggerak (CGP) yang akan menjadi guru penggerak (GP), BAGJA membuat rencana yang sejatinya kompleks menjadi sederhana dan terukur serta mudah untuk dilaksanakan. Saya pun percaya bahwa dengan BAGJA, pencapaian visi akan perlahan-lahan terwujud dan akan menjawab tantangan pendidikan abad 21. Ini tentu membutuhkan komitmen yang kuat dari kita sebagai pendidik.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s
MENENGOK KEDISIPLINAN GURU PROFESIONAL
Tulisan ini bertujuan menggugah guru dalam menjalankan tugas sebagai guru profesional. Suka atau tidak, tulisan atau opini ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku
