PERCUMA, JIKA TIDAK MAU BERUBAH: CATATAN REFLEKTIF BUAT CALON GURU PENGGERAK (CGP)
Menjadi guru penggerak bukan persoalan mudah dan bukan karena tendensi tertentu sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nomor 40 Tahun 2021. Sebenarnya menjadi calon guru penggerak atau guru penggerak memiliki tujuan mulia, yakni menggerakan perubahan dan melakukan inovasi di ekosistem sekolah dengan menciptakan ekosistem sekolah menjadi lebih menyenangkan dan proses pembelajaran berpusat pada murid.
Calon Guru Penggerak (CGP) maupun Guru penggerak (GP) yang sementara mengikuti proses pendidikan ataupun telah selesai, idealnya menunjukkan perubahan dalam diri dan melakukan perubahan di sekolah menuju ke arah yang lebih baik, sesuai pemikiran-pemikiran KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, komunitas praktisi dan lain-lain yang di dapat selama proses pendidikan guru penggerak. Namun CGP maupun GP belum memperlihatkan tanda-tanda perubahan yang dilakukan dan hanya diam, maka diasumsikan bahwa proses pendidikan CGP ini kurang atau belum berdampak. Persoalannya, orang selalu kembali ke habitat lama setelah mendapat hal-hal baru dan positif.
Calon guru penggerak ataupun guru penggerak harus tergerak, bergerak dan menggerakkan perubahan, mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada Peserta didik dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Guru penggerak ataupun CGP harus mampu dan bisa menggerakkan diri sendiri, membawa perubahan kepada teman-teman sejawat, rekan kerja dan ekosistem sekolah. CGP ataupun Guru penggerak tidak bisa berdiam di tempat dengan mindset lama dan kelihatan tidak “bergerigi”, tetapi calon guru penggerak ataupun guru penggerak tidak henti-hentinya melakukan inovasi dan perubahan ke arah positif demi meningkatkan kualitas pendidikan di ekosistem sekolah.
Pola pikir baru yang didapat selama proses pendidikan guru penggerak, harusnya diaplikasikan, bukanya didiamkan, apalapi pola pikir baru yang telah dimiliki dari pemikiran KHD dan visi guru penggerak, sangat baik diterapkan dalam proses pembelajaran, dengan cara menuntun murid, berpusat pada murid dan lain-lain dalam menciptakan atau meningkatkan kualitas pendidikan di ekosistem sekolah.
Calon guru penggerak maupun guru penggerak harusnya memberikan warna baru bagi perubahan sekolah ke arah yang positif dalam dunia pendidikan di sekolah. Bukannya tidak bisa menggerakan atau tidak/belum mau menggerakan, diam dan menjadi penonton. Persoalannya, apakah CGP ataupun GP bisa menggerakan diri sendiri? Prosesnya guru penggerak, tetapi orangnya belum mau tergerak dan begerak apalagi menggerakan ekosistem sekolah. Apalah bedanya jika mindset guru yang belum mengikuti CGP namun mindsetnya lebih inovatif dalam melakukan perubahan di ekosistem sekolah ke arah yang lebih baik ketimbang guru yang sudah ikuti proses CGP maupun yang sudah menjadi GP namun belum ada perubahan ke arah yang lebih baik.
Apalagi CGP ataupun GP masih bertahan dalam kebiasaan lama, pola pikirnya belum berubah, perilakunya masih tetap sama dengan yang dulu dan tidak memajukan. Memang semuanya butuh proses, namun paling tidak aksi nyata dari ilmu dan best practice yang didapat ketika mengikuti proses CGP ataupun GP, misalnya; nilai-nilai baik dan positif dari proses itu diterapkan. Apalah gunanya capek-capek mengikuti proses pembelajaran CGP selama kurang lebih 6 atau 9 bulan, kalau ilmu tersebut tidak diaplikasikan dalam membantu kemajuan sekolah. Kan percuma, jika CGP ataupun GP tetap kembali pada kebiasaan lama sebelum mengikuti proses CGP dan menjadi GP.
Jika CGP ataupun GP hanya mengejar tendensi tertentu, disarankan merubah pola pikir ke arah perubahan sesuai visi merdeka belajar sehingga mengikuti proses menjadi guru penggerak menjadi bermanfaat. Kalau memang belum bisa dan belum mau keluar dari kebiasaan lama, apalagi kurang bersemangat mengaplikasikan perubahan dalam diri ataupun merubah ekosistem sekolah ke arah yang lebih baik, sebaiknya mulai dari diri dan merubah konsep berpikir menuju perubahan ekosistem sekolah. Merubah diri sendiri menuju hal yang positif terkadang sulit ketimbang merubah pribadi orang lain. Memang sangat sulit, karena merubah orang lain itu lebih gampang ketimbang merubah diri sendiri.
Oleh karena itu, CGP ataupun GP harus segera membongkar kebiasaan lama yang sudah menjadi “habit” dan harus mengenakan mindset baru, yaitu "perubahan" dengan pola pikir filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) dan nilai-nilai guru penggerak serta visi baru mendeka belajar. Untuk menjadi guru penggerak, harus dan terus-menerus menggerus pola pikir lama dan kenakan pola pikir KHD dan visi baru mendeka belajar dalam mendidik murid dan menjadikan ekosistem sekolah lebih baik lagi.
Kapan mulainya? Hic et Nunc, harus dimulai dari sekarang dan saat ini. Siapa yang harus memulainya? Harus dimulai dari diri guru, bukan dari orang lain. Kalau ikut proses guru penggerak atau calon guru penggerak, namun kebiasaan tidak berubah dan atau tidak membawa perubahan dalam diri dan perubahan di ekosistem sekolah, maka percuma dan sia-sia,…..
Kata Socrates, Sang legenda, Filsuf Yunani Kuno: Jika mau merubah dunia dan menggerakan dunia, maka, pertama-tama menggerakkan dan merubah diri sendiri." -
SEMOGA TERGERAK, BERGERAK DAN MENGGERAKAN SERTA BISA MERUBAH DIRI DAN MERUBAH EKOSISTEM PENDIDIKAN MENJADI LEBIH BAIK KE DEPANNYA
SALAM DAN BAHAGIA
Yulius Bera Tenawahang, S. Fil., M. Pd
Pengajar Praktik Calon Guru Penggerak Angkatan 7
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur) Puji Syukur, saya sebagai Calon G
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s
