"SARANG BURUNG DI RUMAH KU"
Wahai kau burung dalam sangkar…
Sungguh nasibmu malang benar...
Tak seorangpun ambil tau...
Duka dan lara di hatimu...
Wah itu lagu kan?
Bukan…bukan sekedar lagu atau syair indah yg menoreh rasa pilu,...
Dalam percakapanku yang membisu dengan burung yang menumpang...
Mereka menemani ku dalam sunyi...
Mereka terpaksa mengotori pondokku dengan rumput sarangnya...karena...
Mereka di kejar dengan peluru para pemburu...
Mereka di kejar katapel para bocah dalam belukar…
Mereka di bidik dengan senjata dengan teleskop inframerah...di abadikan dalam YouTube oleh mereka yg mencari rupiah dengan like dan subscribe.
Wahai kau burung Ciptaan Tuhan....betapa malang nasib mu…
Napas yang Tuhan beri untukmu… hanya tinggal sejauh lensa dan mata para pemburu.
Burung kecil tak bersayap...bersabarlah dalam sarang kecilmu...bertahanlah dalam gubuk idamanku ku...karena pelarian indukmu dari rimba yg terusik....
Bukit Harapan Oeleta,22/5/2022 (Hen)*
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Suara dari Kaum tak Bersuara
Wahai tuanku Ki Hajar DewantaraPembesar berhati besar tapi mencintai kami yang kecilYang kadang dibuat kasar oleh guru dari jaman kolonialPadahal jiwaku ragakuzamankualamkuada di jaman
Rindu tanpa Jumpa
Kamu di sini kami di sanaKita adalah benih yang samayang tumbuh dalam ladang yang berbeda Kita hanya terpisah oleh tepi batasdi atas tanah yang samaTanah leluhur kitaTimor Leste bu
TATAPAN
Aku terdiam pada tatapan paling dalam Hampir ku tenggelam karena tak mampu menyelam Dalam rasa yang tak kunjung usai &
SENJA YANG SEPI
Senja kali ini masih seindah senja kemarin begitu pula dengan malam ini, masih setia dengan pekat yang sama Lalu… Apa yang berbeda..? Bukankah kemarin dan hari ini sepinya mas
“HARAPAN”
Melangkahi embun pagi yang menyapa subuh degan tetesnya. Tarulah harapan baru di setiap harinya Dan berharap nikmat ada di setiap waktunya Pagi ini mugkin beda dari pagi kemarin Kak
MEI DAN AIR MATA
Mungkin ini senja Yang kesekian Yang selalu menjadi primadona dalam dada Bahkan hingga malam yang paling sunyi sekalipun Ia masih bersembunyi dalam mimpi dan cerita yang kini mendada
SEPI YANG PALING HINA
Malam Kini hadir Menyapa GubukKu yang kosong Bulan telah pergi membawa cahayanya Lalu tinggalkan aku sendiri memeluk sepi yang paling hina Bahkan anginpun seolah lewat tanpa gairah
DOA UNTUK MAMA
Di balik jendela ku yang tanpa kain Ku nikmati angin malam yang Tuhan kirim Kupandang langit Tuhan yang maha luas Kadang cerah kadang gelap Persis seperti hidupku yang kadan
"GELAS AQUA "
Dulu waktu kau masih berlabel... Kami cari mu di saat haus dan kami belikan dengan mahal. Sekarang...kami habiskan isimu yang murni dan kami buang, kami injak dan menyebut mu
"HUJAN DI BULAN JUNI"
Kami sang abdi masih mengabdi… Mendung mencekam, gemuruh mendesak Kaki enggan melangkah karena rintik telah memberi tanda. Hujan turun lagi, di bulan juni yang tak bia
