MEI DAN AIR MATA
Mungkin ini senja Yang kesekian
Yang selalu menjadi primadona dalam dada
Bahkan hingga malam yang paling sunyi sekalipun
Ia masih bersembunyi dalam mimpi dan cerita yang kini mendadak hilang dari ranjang
Lalu kenapa Ia masih mengisahkan hujan yang paling sedih waktu itu???
Ia pernah berkata
Langit akan menulis seluruh musim dalam satu rasa
Lalu seolah menyuruhku mengeja Kerinduan
Di pertengahan Mei waktu itu yang hanyut dalam ribuan air Mata
Apakah kamu terluka???
Ia..sangat Luka..
Bahkan waktu sekalipun gagal menjahit Luka itu
Karena kenangan tentangMu masih terus menganga
Kali ini Langit desaKu seolah kehilangan Bicara
Walau dulu Langit dan senja yang selalu dikisahkan
Aku menunggu setelah Hujan, Pelangi dan Mentari Kemarin
Tapi kenapa kau tak kunjung pulang??
Waktu kembali menyadarkan
Menyuruhku untuk berhenti berharap
Dan membiarkan semua kisah Air Mata itu
Hanyut dalam aliran kenangan
Karena LangitMu dan langitKu sudah tak lagi sama????
PojokSepi Jami pelolo,21 Mei 2022 (Lussy Jami)
Komentar
Mantap puisinya
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Suara dari Kaum tak Bersuara
Wahai tuanku Ki Hajar DewantaraPembesar berhati besar tapi mencintai kami yang kecilYang kadang dibuat kasar oleh guru dari jaman kolonialPadahal jiwaku ragakuzamankualamkuada di jaman
Rindu tanpa Jumpa
Kamu di sini kami di sanaKita adalah benih yang samayang tumbuh dalam ladang yang berbeda Kita hanya terpisah oleh tepi batasdi atas tanah yang samaTanah leluhur kitaTimor Leste bu
TATAPAN
Aku terdiam pada tatapan paling dalam Hampir ku tenggelam karena tak mampu menyelam Dalam rasa yang tak kunjung usai &
SENJA YANG SEPI
Senja kali ini masih seindah senja kemarin begitu pula dengan malam ini, masih setia dengan pekat yang sama Lalu… Apa yang berbeda..? Bukankah kemarin dan hari ini sepinya mas
“HARAPAN”
Melangkahi embun pagi yang menyapa subuh degan tetesnya. Tarulah harapan baru di setiap harinya Dan berharap nikmat ada di setiap waktunya Pagi ini mugkin beda dari pagi kemarin Kak
SEPI YANG PALING HINA
Malam Kini hadir Menyapa GubukKu yang kosong Bulan telah pergi membawa cahayanya Lalu tinggalkan aku sendiri memeluk sepi yang paling hina Bahkan anginpun seolah lewat tanpa gairah
DOA UNTUK MAMA
Di balik jendela ku yang tanpa kain Ku nikmati angin malam yang Tuhan kirim Kupandang langit Tuhan yang maha luas Kadang cerah kadang gelap Persis seperti hidupku yang kadan
"GELAS AQUA "
Dulu waktu kau masih berlabel... Kami cari mu di saat haus dan kami belikan dengan mahal. Sekarang...kami habiskan isimu yang murni dan kami buang, kami injak dan menyebut mu
"HUJAN DI BULAN JUNI"
Kami sang abdi masih mengabdi… Mendung mencekam, gemuruh mendesak Kaki enggan melangkah karena rintik telah memberi tanda. Hujan turun lagi, di bulan juni yang tak bia
HUJAN SAAT BULAN PURNAMA
Sahabat ku….bulan purnama se indah ini tidak ada yang punya. Jika kau tersenyum bahagia, dia pun tersenyum di balik dedaunan. Malam yang dingin karena pohon-pohon rindangku,men

Baguss sekalii