SENJA YANG SEPI
Senja kali ini masih seindah senja kemarin begitu pula dengan malam ini, masih setia dengan pekat yang sama
Lalu…
Apa yang berbeda..?
Bukankah kemarin dan hari ini sepinya masih sama?
Jelas ada yang berbeda
Dulu..
Sajak-sajak, ramai menghiasi rasa kata, kata indah yang menari mencari makna.
Dunia ku seolah penuh cinta hingga kesepianpun aku tetap tertawa
namun…
Setelah badai menghantam duniaku beberapa ranting patah
Kalimat-kalimat seolah tak menemukan arah entah waktu yang tak lagi bergairah atau kesepian yang kian merajah dan seolah sebuah tanya menyapa…
Apakah kau kesepian…?
Sungguh tak ada yang bisa ku tuliskan hanya mampu lukis dari diam yang mungkin lebih sepi dari kematian.
Akhirnya yang tertinggal hanya dua tumpukan nisan, rumah tua yang bocor, mama yang renta dan kami yang sudah jarang di rumah.
Pojok sepi jami pelolo (Lussy jami)
Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Suara dari Kaum tak Bersuara
Wahai tuanku Ki Hajar DewantaraPembesar berhati besar tapi mencintai kami yang kecilYang kadang dibuat kasar oleh guru dari jaman kolonialPadahal jiwaku ragakuzamankualamkuada di jaman
Rindu tanpa Jumpa
Kamu di sini kami di sanaKita adalah benih yang samayang tumbuh dalam ladang yang berbeda Kita hanya terpisah oleh tepi batasdi atas tanah yang samaTanah leluhur kitaTimor Leste bu
TATAPAN
Aku terdiam pada tatapan paling dalam Hampir ku tenggelam karena tak mampu menyelam Dalam rasa yang tak kunjung usai &
“HARAPAN”
Melangkahi embun pagi yang menyapa subuh degan tetesnya. Tarulah harapan baru di setiap harinya Dan berharap nikmat ada di setiap waktunya Pagi ini mugkin beda dari pagi kemarin Kak
MEI DAN AIR MATA
Mungkin ini senja Yang kesekian Yang selalu menjadi primadona dalam dada Bahkan hingga malam yang paling sunyi sekalipun Ia masih bersembunyi dalam mimpi dan cerita yang kini mendada
SEPI YANG PALING HINA
Malam Kini hadir Menyapa GubukKu yang kosong Bulan telah pergi membawa cahayanya Lalu tinggalkan aku sendiri memeluk sepi yang paling hina Bahkan anginpun seolah lewat tanpa gairah
DOA UNTUK MAMA
Di balik jendela ku yang tanpa kain Ku nikmati angin malam yang Tuhan kirim Kupandang langit Tuhan yang maha luas Kadang cerah kadang gelap Persis seperti hidupku yang kadan
"GELAS AQUA "
Dulu waktu kau masih berlabel... Kami cari mu di saat haus dan kami belikan dengan mahal. Sekarang...kami habiskan isimu yang murni dan kami buang, kami injak dan menyebut mu
"HUJAN DI BULAN JUNI"
Kami sang abdi masih mengabdi… Mendung mencekam, gemuruh mendesak Kaki enggan melangkah karena rintik telah memberi tanda. Hujan turun lagi, di bulan juni yang tak bia
HUJAN SAAT BULAN PURNAMA
Sahabat ku….bulan purnama se indah ini tidak ada yang punya. Jika kau tersenyum bahagia, dia pun tersenyum di balik dedaunan. Malam yang dingin karena pohon-pohon rindangku,men

Senja kali ini masih seindah senja kemarin begitu p