"GELAS AQUA "
Dulu waktu kau masih berlabel...
Kami cari mu di saat haus dan kami belikan dengan mahal.
Sekarang...kami habiskan isimu yang murni dan kami buang, kami injak dan menyebut mu sampah.
Ah..maaf saya teringat pada mereka para gadis malang...
Di bawa atas nama cinta di buang atas nama benci. Padahal dalam kamus cinta tak ada kata benci...
Siapa maksudmu…? TKW…?pembantu…?mantan pacar…?mantan istri..?Sudahlah...jangan menghayal ini hanya gelas Aqua yang di buang.
Gelas Aqua...
Saya melihat mu dibuang dari kaca mobil mewah
Saya melihatmu di buang pelajar terpelajar dari kaca bemo kota
Saya melihatmu berserahkan di lorong jalan pulang
Saya melihatmu di depan kelas tempat guru dan murid berdebat tentang filsafat lingkungan...
Maaf tak ada yg melirik…kamu terlanjur di anggap sampah yang tak bernilai...
Gelas Aqua...
Maaf… saya melihatmu terkumpul dalam selokan, masuk dalam gorong-gorong yang kami sebut drainase. Apakah kamu sedang merancang bencana atau bersembunyi karena malu pada manusia yg tak tau malu? Ini pasti kamu yang marah dan menyumbat drainase yang di bangun dengan dana jutaan rupiah tapi nanti jadi bencana yang membuat tangis jutaan jiwa.
Atau Mungkin juga bukan,..hanya Tuhan yang murka sehingga Banjir membuat kami berenang sambil berdoa....
Jalan timor raya,22/05/2022 (Hen)*
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Suara dari Kaum tak Bersuara
Wahai tuanku Ki Hajar DewantaraPembesar berhati besar tapi mencintai kami yang kecilYang kadang dibuat kasar oleh guru dari jaman kolonialPadahal jiwaku ragakuzamankualamkuada di jaman
Rindu tanpa Jumpa
Kamu di sini kami di sanaKita adalah benih yang samayang tumbuh dalam ladang yang berbeda Kita hanya terpisah oleh tepi batasdi atas tanah yang samaTanah leluhur kitaTimor Leste bu
TATAPAN
Aku terdiam pada tatapan paling dalam Hampir ku tenggelam karena tak mampu menyelam Dalam rasa yang tak kunjung usai &
SENJA YANG SEPI
Senja kali ini masih seindah senja kemarin begitu pula dengan malam ini, masih setia dengan pekat yang sama Lalu… Apa yang berbeda..? Bukankah kemarin dan hari ini sepinya mas
“HARAPAN”
Melangkahi embun pagi yang menyapa subuh degan tetesnya. Tarulah harapan baru di setiap harinya Dan berharap nikmat ada di setiap waktunya Pagi ini mugkin beda dari pagi kemarin Kak
MEI DAN AIR MATA
Mungkin ini senja Yang kesekian Yang selalu menjadi primadona dalam dada Bahkan hingga malam yang paling sunyi sekalipun Ia masih bersembunyi dalam mimpi dan cerita yang kini mendada
SEPI YANG PALING HINA
Malam Kini hadir Menyapa GubukKu yang kosong Bulan telah pergi membawa cahayanya Lalu tinggalkan aku sendiri memeluk sepi yang paling hina Bahkan anginpun seolah lewat tanpa gairah
DOA UNTUK MAMA
Di balik jendela ku yang tanpa kain Ku nikmati angin malam yang Tuhan kirim Kupandang langit Tuhan yang maha luas Kadang cerah kadang gelap Persis seperti hidupku yang kadan
"HUJAN DI BULAN JUNI"
Kami sang abdi masih mengabdi… Mendung mencekam, gemuruh mendesak Kaki enggan melangkah karena rintik telah memberi tanda. Hujan turun lagi, di bulan juni yang tak bia
HUJAN SAAT BULAN PURNAMA
Sahabat ku….bulan purnama se indah ini tidak ada yang punya. Jika kau tersenyum bahagia, dia pun tersenyum di balik dedaunan. Malam yang dingin karena pohon-pohon rindangku,men
