GUNTING RAMBUT YANG TAK MAU GUNTING
Hari ni hari selasa tanggal 31/05/2022, sekolah kami lagi sepi karena sedang ujian kenaikan kelas, dan semua siswa dan guru pengawas ada dalam ruang ujian. Berbeda dengan di ruangan saya, ada kebisingan karena suara sahabat saya guru-guru yang tidak mengawas sedang cerita tentang “ waktu yang sia sia” isi ceritanya hanya kami yang tau…hahah. Tiba tiba hp saya berdering, saya liat siapa yang calling..ternyata sahabat saya ibu X (nama samaran) . Hallo bos, gimana? Ama di sekolah? Ia kk,gimana? Ada siswa saya yang saya sudah janji dia gunting rambutnya sudah 2 minggu, tapi sampai sekarang belum gunting. Melawan ni anak, tolong tangani di kesiswaan pak. Saya jawab..siap komendan. Memang di ruangan saya ruangan urus masalah karena kesiswaan itu “Polisi sekolah” yang menertibkan siswa dengan tata tertib yang selalu stand by di meja saya.
Beberapa menit berselang, siswa yang bersangkutan mengetuk pintu. Saya menyuruhnya masuk dan duduk pada kursi yang tersedia di samping saya. Teman2 guru ku yang lain tanya, dia masalah apa lagi? Saya bilang tidak. Kayaknya dia mau undang kita pi makan jagung muda di kebunnya.hahah. Oh…baik su gas..oto su ada ni guyon teman saya pak Derson Djawa guru sosiologi. Setelah saya liat dia duduk nyaman, saya tanya:adik nama siapa? Dia bilang salvador, lengkapnya salvador Eriques. Rumah di mana? Di Naunu pak. Naunu? Saya teringat tempat itu jauh dari sekolah kami karena saya sudah pernah lewat dengan teman-teanku mendampingi pak kadis Pendidikan dan Kebudayaan bapak Linus Lusi lewat sana, kurang lebih 11 km dari sekolah. Dengan apa ke sekolah… dengan motor pak? Baik adik. saya kira jalan kaki, jauh sekali dek ya..?
Bagaimana dek, ada yang bias kita makan? Saya guyon dan dia tertawa..hahha. “Tidak pak, saya ibu guru tegur untuk gunting rambut, tapi saya belum gunting pak!” kata dia dengan mata berbinar. Adik Kenapa belum gunting rambut, pak guru boleh tau? Saya masih sibuk di sawah degan orang tua pak, dan teman saya yang bisa gunting ni belum sempat pak. Saya bilang oke (dalam hati saya bantu orang tua?anak ini baik dan taat kayaknya hanya masalah waktu) atau mungkin saja ada melawan sedikit karena cara tegur nya kami guru yang kurang pas di hatinya, mungkin saja dalam hati saya. Dengan suara halus dan saya menatap matanya dengan penuh perhatian…terus saya bilang dia Begini:………Ibu guru mau supaya kamu rapih, ganteng, dan nyaman. Tidak di tegur oleh semua guru. Kalau di tegur 1, 2, 3 dst nya maka kamu tidak nyaman di sekolah, kalau sudah tidak nyaman nanti sekolahmu terganggu. Atau bagaimana menurut mu dek? Betul pak, saya gunting saja tapi saya cari kawan dulu dan pinjam gunting! Jadi gunting saja ya,ikut saja kata ibu gurumu, kami orang tuamu yang ke dua (dengan nada yang rendah) saya liat dia terharu,air mata di kelopak matanya penuh (mungkin karena saya tidak memarahinya). Disini ada tata tertib yang atur mengenai kerapian rambut pasal 4 ayat 1-4, tapi ini maslah sederhana tidak perlu saya yang potong to? Saran kakak begini, kamu ada teman yang bisa gunting? Ada pak, kalau ada…sebentar ini minta tolong dia gunting sesuai selerah mu, yang menurt kamu gagah, ganteng…minta tolong dia yang penting pendek sedikit. Ia pak, sambutnya. Saya ingat ada gunting di laci teman saya pak Reno Detan, saya minta tolong supaya di pinjamkan untuk keperluan itu. Saya bilang dia, ambil gunting ini tunjukan di ibu dan minta maaf karena sebentar ini baru gunting, pak Hen sudah kasih gunting...! Dia berterima kasih dengan gestur dan raut wajah yang tulus. Dan pergi kembali ke ruang ujian menemui ibu guru pengawasnya.
Selang berapa menit setelah ujian selesai, dia dengan kawannya lewat ruangan saya minta pendapat saya, pak saya gunting pendek sedikit sa bagian atas ni ko pak.. saya bilang ikut kau punya rasa nyaman dan biasa ganteng kalau rambutmu potongannya bagaimana na itu su… supaya nona suka..hahaha. Dia terawa dan pergi ke bawa pohon dekat sekolah untuk gunting.
Saya rasa dalam percakapan kami dan penyelesaian masalah Gunting Rambut Yang Tak Mau Gunting ini, tidak ada perasaan yang tersinggung, atau batin yang terluka. Kalau dulu tidak jarang kita liat, atau kita dengar guru potong rambut siswa (rata bena kolbano istilah orang kupang..hhahah) dan di sebut jalan tikus karena sama sekali tidak rapi.. dan siswa itu pulang dengan dendam membara dalam hatinya karena tersinggung dia di bentak, di rendaahkan, dan membuat dia malu di depan temannya, sepanjang jalan pulang dia tutup kepala dengan tas sekolah. Bisa di bayangkan kalau dia naik bemo dan duduk di antara nona cantik seumuran nya, dan memandangnya sambil adu pandang (seolah berbisik… anak ganteng ma, rambutnya yang jelek) dll. Jika kejadian masa lalu ini masih terus terjadi, kasian juga jadi siswa. Cara berempati kita terhadap mereka siswa yang mengalami ini, sederhana saja kita guru mengandaikan dia adalah kita, pasti kita juga tidak suka gurunya bahkan omong namanya saja kita pemalas dengar dan seumur hidup kita maki dan kutuk dia..haha. (maksudku adalah guru yang gundulkan rambutnya dan tidak sesuai seleranya).
Padahal dalam penelitian pendidikan terkemuka belum ada temuan yang mengatakan ada hubungan antara ukuran rambut dan IQ atau kepintaran, bahkan di dunia maju style itu soal selera dan pilihan. Dan orang pintar mereka bilang “De gustibus non est distupandum” yang artinya soal selera tidak dapat di perdebatkan….pepatah latin itu benar karena sesungguhnya tidak ada perhitungan untuk rasa…..salam satu rasa. Tapi kalau konsep selera di pakai , guru berada pada posisi dilema etika, antara tat tertib dan selera siswa. Tapi apapun yang mau di rubah kayaknya “cara” kita memperlakukan siswa, harus penuh empati agar kebutuhan dasarnya “kasih sayang dan rasa diterima, kebebasan, kesenangan” tidak terganggu dan membuat dia berpeluang melawan kita.
#merdeka belajar, merdeka batin#
Ruang kesiswaan, 31/5/2022 (Hen)*
Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PEMBINAAN INSAN MUDA:MERAIH CAHAYA DI BALIK KILAF
Hari istimewa,selasa 11/11/2025 terukir sembilan nama, dari Ignasius hingga Dionisius, remaja berpakian putih abu-abu, sebagian besar dari kelas XI F5.
SERAGAM YANG BARU (Kisah Nyata Seorang Bocah)
Dulu…ini dulu…di Sebuah Dusun yang kecil ada seorang bocah yang hidup penuh harapan, dia 1 dari 12 orang saudaranya. Hidup selalu riang, padahal mereka makannya sekali set
RUNYAM TAPI HAPPY ENDING (Menyelesaikan masalah tanpa masalah)
Malam itu sekitar pukul 21.53 tanggal 24 Mei 2022, saya gugup membaca Whats Apps kepala sekolah kami bapak Yulius B Tenawahang, S.FIL, M.Pd. Memangnya kenapa kok han
Membangunkan Kembali Hoby yang Sudah Tertidur
Judul tulisan di atas saya pilih "membangunkan kembali hoby yang sudah tertidur" bukan berarti tidur sudah menjadi hoby kami. Tetapi ada kenikmatan masa lalu yang pernah kami nikm
PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH
AKSI NYATA MODUL 1.4 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh Yulius Bera Tenawahang (CGP Angkatan -9- SMA Negeri 2 Kupang Timur-Kabupaten Kupang A
Kepala SMAN 2 Kupang Timur Selalu Ikut Kerja Bersama Murid
Kepala SMAN 2 Kupang Timur, Bapak Yulius Bera Tenawahang selalu terlibat bekerja bersama para murid. Saat ada kerja bakti di sekolah, bapak Yulius juga turun tangan. Ikut membantu membe
Kudang Laiskodat, a Charismatic Hero of Timor in the XVII Century
This charismatic warrior figure came from the Helong tribe. The Helong tribe called him “Aka Kudang Neno Laiskodat,” or in daily life, it was called “Ko

Kita harus mengikuti peraturan biar kita menjadi lebih baik