PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH
AKSI NYATA MODUL 1.4
PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH
Oleh
Yulius Bera Tenawahang
(CGP Angkatan -9- SMA Negeri 2 Kupang Timur-Kabupaten Kupang
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam proses “menuntun” anak, pendidik sebagai pamong/pendamping diberi kebebasan, dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pendidik dapat memberikan “tuntunan” agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar dan mencapai tujuan belajar. Ki Hajar menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan memfasilitasi anak untuk berkembang sesuai zamannya tanpa harus kehilangan akar budaya daerahnya.
Penanaman karakter dan pembiasaan yang kuat melalui penanaman budaya positif di sekolah menjadi hal yang sangat krusial. Walaupun pada dasarnya secara umum semua warga sekolah sudah memiliki nilai-nilai positif. Peran keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama dalam pembentukan budi pekerti dan karakter anak. Namun, kita perlu menerapkan pembiasaan-pembiasaan baik tersebut di lingkungan sekolah sebagai langkah nyata membentuk budaya yang positif sebagai penguat pondasi karakter dari pendampingan orang tua di rumah.
Hal yang mendasari saya membuat rancangan tindakan ini yaitu saya ingin menerapkan Budaya positif dengan melakukan diseminasi secara bersama-sama dengan guru dan pegawai di sekolah. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah yang mana nantinya dapat mewujudkan nilai-nilai kebajikan sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yaitu Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong Royong, dan Kreatif. Budaya positif membantu murid untuk melakukan hal positif sehingga dapat membentuk karakter baik yang kelak akan bermanfaat untuk lingkungan SMA Negeri 2 Kupang Timur.
Selain itu, saya juga ingin menumbuhkan motivasi intrinsik murid dalam melaksanakan budaya positif ini. Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga dapat menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan (Diane Gossen, 1998). Melalui penerapan BUdaya Positif ini dapat menumbuhkan motivasi internal setiap individu di sekolah untuk benar-benar “merdeka” yaitu mereka dapat cakap memerintah diri sendiri dalam melakukan budaya positif di lingkungan sekolah.
B. Tujuan
Untuk mengimplementasikan Budaya Positif demi terwujudnya lingkungan sekolah yang berbudaya positif yang dilakukan semua guru dan mirid melalui pembiasaan-pembiasaan positif di lingkungan kelas dan lingkungan sekolah. Budaya positif tersebut, seperti
- Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal
- Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
- Keyakinan Kelas
- Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
- Restitusi: 5 Posisi Kontrol
- Restitusi: Segitiga Restitus
C. Tolok Ukur
- Adanya perubahan perilaku guru dan murid ke arah yang lebih baik dalam melaksanakan budaya positif sesuai dengan keyakinan sekolah dan keyakinan kelas.
- Suasana sekolah kondusif dan menyenangkan dalam mendukung proses pembelajaran.
- Semua komponen sekolah dapat berperan aktif dalam melaksanakan keyakinan sekolah dalam mewujudkan budaya positif.
- Semua komponen sekolah dapat berkolaborasi dalam menerapkan budaya positif sehingga terwujud nilai-nilai kebajikan sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
D. Lini Masa Tindakan yang Akan Dilakukan
- Mensosialisasikan Budaya Positif kepada warga sekolah.
- Menyusun rencana pelaksanaan pembuatan sekolah impian secara bersama-sama dengan semua murid.
- Menyepakati keyakinan kelas dan keyakinan sekolah yang telah dibuat.
- Melaksanakan keyakinan kelas dan keyakinan sekolah yang telah dibuat secara bersama-sama.
- Melakukan refleksi secara kontinu terhadap keyakinan sekolah dan keyakinan kelas demi perbaikan ke depannya.
E. Dukungan yang Dibutuhkan
- Bahan dan Alat: Poster, video, Kertas karton, spidol, kertas post it (untuk membuat keyakinan kelas), laptop dan LCD untuk sosialisasi budaya positif.
- Kepala Sekolah dan Rekan Sejawat
- Dukungan dalam menerapkan keyakinan sekolah dalam mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah.
- Murid: Murid sebagai subjek pembelajaran yang berkolaborasi bersama dengan guru dalam membuat keyakinan sekolah secara bersama-sama.
- Orang Tua/Wali Murid: Berperan aktif dalam melanjutkan budaya positif di lingkungan keluarga dan juga lingkungan rumah murid.
F. Dokumentasi Kegiatan Membuat Penerapan Budaya Positif, Restitusi Positif dan Kelas Impian dan Keyakinan Kelas. Berikut ini tautan link youtube membuat keyakinan kelas bersama (link video di bawah ini….Forum berbagi aksi nyata: https://youtu.be/gZgW6Mjr5gA Penerapan Budaya Positif: https://youtu.be/mJeQuz8geXU dan Restitusi Positif: https://youtu.be/omgDF_D_kpI
G. Hasil dari Aksi Nyata
Respon semua guru dan murid tentu saja merasa senang dan apresiatif. Mereka bersemangat melakukan perubahan keyakinan akan aturan sekolah dan aturan-aturan kelas. Bersemangat untuk menyepakati draft keyakinan sekolah dan kelas karena motivasi intrinsik untuk menjadi lebih baik. Dari beberapa usulan guru dan siswa di kelas impian tersebut kemudian guru bersama murid menyalinnya menjadi sebuah keyakinan kelas yang disepakati bersama antara guru dan murid dengan membubuhkan tanda tangan ke dalam draft keyakinan kelas.
H. Pembelajaran yang didapat dari Pelaksanaan
Pembelajaran yang didapat dari hasil pelaksanaan antara lain yaitu:
- Pentingnya membuat kelas impian dan keyakinan kelas.
- Posisi guru sebagai kontrol manajer.
- Melakukan segitiga restitusi dalam menangani murid.
- Dukungan dari semua warga sekolah untuk menerapkan disiplin positif guna mewujudkan budaya positif di kelas dan di lingkungan sekolah.
I. Rencana Perbaikan untuk Pelaksanaan di Masa Mendatang
Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang yaitu mengevaluasi keyakinan sekolah dan keyakinan kelas agar menjadi lebih baik lagi dan menerapkan kepada seluruh warga sekolah dan warga kelas.
J. Sesi Berbagi/Diseminasi Modul 1.4 Budaya Positif
Berikut ini tautan link youtube diseminasi aksi nyata modul 1.4 budaya positif Link: Forum berbagi aksi nyata: https://youtu.be/gZgW6Mjr5gA Penerapan Budaya Positif: https://youtu.be/mJeQuz8geXU dan Restitusi Positif: https://youtu.be/omgDF_D_kpI
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PEMBINAAN INSAN MUDA:MERAIH CAHAYA DI BALIK KILAF
Hari istimewa,selasa 11/11/2025 terukir sembilan nama, dari Ignasius hingga Dionisius, remaja berpakian putih abu-abu, sebagian besar dari kelas XI F5.
GUNTING RAMBUT YANG TAK MAU GUNTING
Hari ni hari selasa tanggal 31/05/2022, sekolah kami lagi sepi karena sedang ujian kenaikan kelas, dan semua siswa dan guru pengawas ada dalam ruang ujian. Berbeda dengan di rua
SERAGAM YANG BARU (Kisah Nyata Seorang Bocah)
Dulu…ini dulu…di Sebuah Dusun yang kecil ada seorang bocah yang hidup penuh harapan, dia 1 dari 12 orang saudaranya. Hidup selalu riang, padahal mereka makannya sekali set
RUNYAM TAPI HAPPY ENDING (Menyelesaikan masalah tanpa masalah)
Malam itu sekitar pukul 21.53 tanggal 24 Mei 2022, saya gugup membaca Whats Apps kepala sekolah kami bapak Yulius B Tenawahang, S.FIL, M.Pd. Memangnya kenapa kok han
Membangunkan Kembali Hoby yang Sudah Tertidur
Judul tulisan di atas saya pilih "membangunkan kembali hoby yang sudah tertidur" bukan berarti tidur sudah menjadi hoby kami. Tetapi ada kenikmatan masa lalu yang pernah kami nikm
Kepala SMAN 2 Kupang Timur Selalu Ikut Kerja Bersama Murid
Kepala SMAN 2 Kupang Timur, Bapak Yulius Bera Tenawahang selalu terlibat bekerja bersama para murid. Saat ada kerja bakti di sekolah, bapak Yulius juga turun tangan. Ikut membantu membe
Kudang Laiskodat, a Charismatic Hero of Timor in the XVII Century
This charismatic warrior figure came from the Helong tribe. The Helong tribe called him “Aka Kudang Neno Laiskodat,” or in daily life, it was called “Ko
