1.2.a.4. EKSPLORASI KONSEP TUGAS A
1.2.a.4. EKSPLORASI KONSEP
TUGAS A
- Bagaimana Bapak/Ibu memahami cara kerja otak, 5 kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh-kembang anak berserta pengaruhnya pada pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup manusia? Mengapa demikian?
- Manusia memiliki 2 sistem berpikir yaitu: sistem berpikir cepat dan berpikir lambat. Kedua sistem berpikir dapat mempengaruhi bagaimana kita bersikap dan mengambil keputusan. Berpikir cepat tidak membutuhkan energi, diumpamakan kita yang berada di atas eskalator yang sedang berjalan turun. Dimana kita berdiri saja, tidak perlu energi untuk sampai ketujuan. Jadi tidak ada energi untuk melakukannya. Sedangkan, berpikir lambat itu membutuhkan energi yang sangat besar, diumpamakan kita menaiki eskalator yang sedang bergerak turun sementara kita menaiki eskalator dengan posisi yang berlawanan. Ini membutuhkan energi yang sangat besar. Karena jika kita berhenti saja maka kita tidak akan sampai ke atas, tapi jika kita terus bergerak menaiki eskalator yang sedang berjalan itu maka kita pasti akan sampai ke atasnya.
- Manusia sebagai makhluk biologis memiliki lima kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar kehidupan dapat berjalan dengan baik, yakni: Kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kebutuhan untuk diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan/penguasaan (power). Setiap perilaku yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, sebuah usaha untuk memenuhi satu atau lebih kebutuhan dasar kita agar dapat menjalankan hidup dengan baik, aman, nyaman, dan sejahtera.
- Menurut Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa proses belajar harus selaras dengan kodrat anak yang terbagi atas 3 periode usia anak yaitu : Wiraga (periode usia 0-8 tahun) pada periode ini jasmani (raga) dan indera anak tumbuh pesat sekali. maka, mereka harus banyak bergerak (melatih otot kasar/besar & otot halus), mengeksplorasi indera mereka (termasuk imajinasi), dan mengenali simbol-simbol. (diri, sesama, dan lingkungannya). Wiraga-Wirama (periode usia 9-16 tahun): Pada periode usia ini, anak mulai berkembang pikirannya. Wirama (periode usia 17-24 tahun): Guru pada rentang usia ini, menuntun dan menantang anak dalam hal pengelolaan diri dan pengenalan potensi dirinya. Oleh karena tiap periode usia anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar maka Guru harus berupaya fokus pada pemberian akses dan penyediaan pengalaman belajar agar anak makin merdeka dalam mengeksplorasi “dunia”nya sesuai periodenya masing-masing.
- Kehadiran nilai yang dimiliki dalam diri dalam seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari.
- Pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup manusia dipengaruhi oleh oleh cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia dan tumbuh kembang anak.
Setiap manusia memiliki 2 sistem berpikir namun ada yang lebih menonjol. Begitu juga dengan anak memiliki cara berpikir yang berbeda-beda, maka guru harus mampu memahaminya dan melatih anak untuk mampu mengelola keduanya secara seimbang. Selain itu anak juga memiliki kebutuhan dasar yang apabila tidak terpenuhi dengan baik maka tidak menutup kemungkinan anak akan melanggar norma atau aturan. Pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup anak dipengaruhi oleh peran besar orangtua dan lingkungan sekitarnya. Sehingga guru harus mampu menggerakkan orangtua dan lingkungan sekitarnya untuk ikut berperan dalam pembentukan kebiasaan baik pada anak sesuai tumbuh kembang mereka.
- Menurut Bapak/Ibu nilai-nilai apa yang perlu dikuatkan sebagai guru penggerak? Mengapa demikian?
Seorang guru penggerak harus bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai yaitu: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif dan Berpihak pada Murid.
Mandiri, adalah kesiapan dan kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan mengambil inisiatif. Selain itu mencoba mengatasi masalah tanpa meminta bantuan orang lain, berusaha dan mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan. Contoh perilaku mandiri : Mengambil inisiatif melakukan pembelajaran yang menyamankan siswa tanpa perlu menunggu komando, selama yang dilakukan tidak melanggar aturan.
Reflektif, merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga diperoleh suatu kesimpulan untuk menyelesaikan permasalahan yang baru.
Perilaku reflektif seorang guru penggerak misalnya ketika ia telah menyelesaikan suatu aksi, maka ia akan mencatat dan memasukkannya dalam diri, mengendapkan hal positif untuk ditingkatkan, menyimpan hal negatif untuk ditambah. Menjadikan keduanya sebagai sarana menjadi diri yang lebih baik setiap waktu. Semua yang terjadi tidak dibiarkan berlalu begitu saja, etapi selalu mengambil hikmah.
Kolaboratif, merupakan suatu sikap saling ketergantungan secara positif, dibarengi tanggung jawab setiap individu, kerjasama, serta keterampilan komunikasi interpersonal.
Contoh perilaku yang bisa dilakukan oleh seorang Guru Penggerak terkait nilai Kolaboratif adalah bersama-sama guru lain mencari solusi permasalahan yang ditemui anak didik, baik masalah akademik maupun non akademik.
Inovatif. Kata kunci nilai inovatif adalah kreatif, ide baru, adaptasi, dan modifikasi. Contoh perilaku inovatif seorang Guru Penggerak adalah menemukan cara baru untuk diterapkan, sehingga pembelajaran tak terasa sebagai beban, tetapi tetap bermakna bagi siswa, menggunakan berbagai sumber belajar, menyenangkan, dan sesuai dengan cara belajar siswa.
Berpihak pada Murid berarti bisa menempatkan diri seandainya guru menjadi murid, respek pada murid, tidak didasarkan pada rasa suka atau tidak suka murid maupun guru. Keberpihakan pendidik harus selalu pada kebenaran. Memfasilitasi bakat, minat, cita-cita anak sejauh yang dia inginkan tidak bertentangan dengan kebenaran itu. Anak juga tidak boleh melanggar prinsip kebenaran atas nama bakat, minat, dan cita-cita.
Oleh: YULIUS BERA TENAWAHANG
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
DATA STATISTIK
Teman: “Kenapa kamu takut sama statistika?” Aku: “Karena di situ perasaan cuma dianggap ‘data sampel’.”
matematika Diskon
Guru: “Apa hasil dari 100.000× 3?” Murid: “Tergantung, Bu. Lagi diskon atau nggak?”
"Perasaan"
Teman: “Kenapa kamu suka matematika?” Aku: “Karena kalau salah, bisa dihitung lagi. Nggak kayak perasaan.”
Alajabar
Guru: “Kenapa kamu takut sama aljabar?” Murid: “Soalnya X terus hilang… kayak dia yang pergi tanpa kabar.”
Matematika
Guru Matematika: “Kenapa kamu nggak pernah takut sama soal pecahan?” Murid: “Karena saya sudah terbiasa… hidup saya juga sudah terbagi-bagi antara tugas, utang
Matematika
Guru Matematika: “Kenapa kamu nggak pernah takut sama soal pecahan?” Murid: “Karena saya sudah terbiasa… hidup saya juga sudah terbagi-bagi antara tugas, utang
Piring Pecah
Ibu: “Kenapa piringnya pecah?” Anak: “Itu piringnya, Bu, nggak kuat menahan kenyataan.”
TERLAMBAT
Guru: “Kenapa kamu terlambat?” Murid: “Bangun kesiangan, Bu.” Guru: “Kenapa bisa kesiangan?” Murid: “Soalnya alarmnya kurang motivasi Bu.&rdquo
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
